Showing posts with label Astronomi. Show all posts
Showing posts with label Astronomi. Show all posts

Thursday, April 11, 2013

Astronomi

Curiosity Menemukan Bahwa Mars Kehilangan Atmosfer


Ilmuwan National Aeronautics and Space Administration (NASA) melalui observasi penelitian robot rover Curiosity mengungkapkan, Mars pernah kehilangan atmosfer.

Dilansir Nbcnews, pengukuran dari Sample Analysis yang dilakukan Curiosity di instrumen Mars atau SAM, memberikan dukungan segar bagi pandangan bahwa aliran berkecepatan tinggi dari partikel bermuatan listrik dari matahari telah "melepas" atmosfer Mars dari atas.

Mars menjadi lebih rentan terhadap kehilangan atmosfer ketimbang Bumi. Sebab, planet merah tidak memiliki medan magnet global untuk bertindak sebagai perisai terhadap angin matahari.

Terkini, atmosfer Mars hanya satu persen sama padatnya seperti Bumi di permukaan dan sebagian besar terdiri dari karbon dioksida. Atmosfer sangat tipis yang menghangatkan sehingga es bisa berubah langsung menjadi uap air tanpa melewati fase cair terlebih dahulu.

Ilmuwan melihat bukti geologi bahwa air mengalir berlimpah di seluruh bagian Mars miliaran tahun lalu. Hal tersebut menunjukkan bahwa tekanan atmosfer Mars mirip Bumi.

Tim sains Curiosity mengungkapkan hasil temuannya dari SAM pada Senin selama European Geosciences Union's General Assembly di Wina. Petunjuk kunci dari penelitian ini berdasarkan pengukuran tepat dari berbagai isotop argon serta gas yang ada pada atmosfer Mars.

Monday, April 1, 2013

Astronomi


Teleskop Tercanggih di Dunia!!!


Apakah Benar Teleskop ALMA mampu melihat terbentuknya alam semesta.??

Sebuah teleskop seharga £1 miliar, atau setara Rp14,5 triliun, bernama Array Atacama Large Millimeter (ALMA) telah diresmikan pada 13 Maret 2013, waktu setempat.
Ada harga ada rupa. Dengan biaya produksi yang fantastis, para ilmuwan mengklaim teleskop termahal ini dapat menyaksikan saat-saat pertama alam semesta terbentuk.

Teleskop yang disebut-sebut paling canggih di dunia ini merupakan proyek astronomi terbesar sepanjang
sejarah. Alat super mewah ini dibangun di gurun Llano Chajnantor yang gersang di Chile.

Dibangun di ketinggian 5.000 meter dan memiliki 66 antena raksasa yang berdiameter 12 meter, teleskop ini mengumpulkan gelombang radio di luar angkasa dengan bantuan cahaya optik. Informasi tersebut kemudian diproses oleh sebuah komputer super.

Para ilmuwan percaya, teleskop ALMA siap mengamati terbentuknya alam semesta, seperti melihat bagaimana bintang dan planet tercipta.

Teleskop raksasa ini merupakan hasil kolaborasi dari negara-negara di Eropa, Asia Timur, dan Amerika Utara, yang menyumbang sebesar £950 juta, setara Rp13,771 triliun, sedangkan Inggris menyumbang £65.000, setara Rp941 juta.

"Para komunitas ilmiah akan menggunakan ALMA untuk penelitian mengenai asal usul pembentukan
bintang, planet, dan tata surya lain," kata Thijs de Graaw, direktur ALMA, dilansir Telegraph, 13 Maret 2013.

"Bahkan, mungkin bisa menemukan bagaimana teori Big Bang terjadi," tandasnya.

Dia menambahkan, ini adalah revolusi dalam sejarah alam semesta. Teleskop ini fokus untuk melihat terbentuknya awan debu pada proses terciptanya planet. Teleskop ALMA akan membuka babak baru ilmu astronomi.

"Diharapkan teleskop mampu menjelaskan asal usul unsur terciptanya matahari, bintang, planet, dan akhirnya manusia," ungkap Thijs de Graaw.

Sementara menurut Brian Ellison, manajer proyek Teleskop Alma mengatakan, semua makhluk terbuat dari stardust. Teleskop ALMA akan menjawab beberapa pertanyaan
tentang dari mana manusia berasal.

"Teleskop ALMA diperkirakan akan menangkap gambar sepuluh kali lebih tajam dari teleskop luar angkasa Hubble," tutup Ellison.

Astronomi


Lubang Hitam Terdekat Bumi Jaraknya 7800 Tahun Cahaya


Sebuah tim astronom internasional telah secara akurat mengukur jarak dari Bumi ke sebuah lubang hitam (black hole) untuk pertama kalinya. Tidak perlu berpacu dengan model matematika para astronom datang dengan jarak 7.800 tahun cahaya, jauh lebih dekat daripada yang diperkirakan sekarang ini.

Para peneliti mencapai terobosan ini dengan mengukur emisi radio dari lubang hitam dengan gugusan bintang yang sedang memudar menuju lenyap.

Karena margin kesalahan jauh lebih rendah (<6%), astronom sekarang dapat memperoleh gambaran yang lebih baik tentang bagaimana lubang hitam berevolusi.

Selain itu, jarak yang tepat adalah penting untuk mengukur perputaran lubang hitam.

Jarak astronomis yang paling mudah diukur dengan menggunakan apa yang disebut paralak trigonometris, di mana para astronom memanfaatkan pergeseran tahunan dari posisi bintang sebagai konsekuensi dari orbit bumi mengelilingi matahari (pergeseran paralaks).

Petrus Jonker dari SRON Netherlands Institute for Space Research dan rekan-rekannya kini telah menerapkan metode ini untuk pertama kalinya yang relatif dekat lubang hitam dan gugusan bintang yang terkait, V404 Cygni, di konstelasi Cygnus.

Lapisan terluar bintang sedang ditarik ke dalam lubang hitam. Gas ini pertama-tama terakumulasi dalam piringan plasma di sekitar lubang hitam sebelum menghilang ke dalamnya, sebuah proses di mana banyak sinar-X dan gelombang radio dipancarkan.

Jonker dan rekan-rekannya dapat secara akurat mengukur pergeseran paralaks dari sistem biner ini menggunakan kombinasi teleskop yang tersebar di seluruh dunia, Array dengan sensitivitas tinggi.

Dengan menggunakan pendekatan ini para astronom dapat menetapkan bahwa lubang hitam V404 Cygni adalah 7.800 tahun cahaya dari Bumi, sedikit lebih banyak dari setengah jarak yang sebelumnya diperkirakan.

Para peneliti percaya bahwa penaksiran yang terlalu tinggi yang terdahulu dari jarak ini adalah karena adanya perkiraan yang terlalu rendah dari penyerapan dan difraksi dari debu antarbintang yang dapat memberikan margin kesalahan sekitar 50 persen. Semantara margin kesalahan pengukuran yang baru kurang dari 6 persen.

#Supernova.

Dari pengukuran-pengukuran para peneliti dapat mengetahui bahwa lubang hitam berkembang dari ledakan supernova, dan yang bergerak melalui ruang angkasa pada laju sekitar 40 km per detik. Sistem bintang kembar telah menambah kecepatan ini selama ledakan.

Jonker berkomentar, "Dengan informasi ini, kita telah mendapatkan gagasan yang lebih baik tentang bagaimana lubang hitam kembali berevolusi. Sebagai contoh, kita berharap dapat menjawab pertanyaan
mengenai apakah ada perbedaan antara lubang hitam yang berevolusi secara langsung dari keruntuhan sebuah bintang tanpa supernova dan lubang hitam yang berevolusi melalui supernova dan bintang perantara sementara, suatu bintang neutron- proto."

"Kami berharap bahwa lubang hitam di kelompok terakhir bisa mendapatkan hantaman. Lubang hitam yang terbentuk dengan cara ini dapat bergerak melalui ruang angkasa lebih cepat," lanjutnya.

Menariknya, V404 Cygni milik kelompok kedua ini tetapi belum menerima 'hantaman besar'.

Peneliti James Miller-Jones menambahkan, "Kami sekarang mencoba menerapkan metode pengukuran yang sama untuk beberapa lubang hitam."

Astronomi


Mesin Roket Misi Apollo Ditemukan di Laut Atlantik


Mesin roket Apollo yang telah berhasil membawa astronot ke bulan pada 40 tahun lalu, dianggap sudah hilang setelah jatuh ke laut.
Namun, sebuah ekspedisi swasta yang dipimpin oleh pendiri Amazon.com, Jeff Bezos, telah berhasil menemukannya.

Dua buah mesin yang digunakan dalam fase pertama roket Saturn yang digunakan dalam misi Apollo, kini telah ditemukan dan berhasil diangkat dari kedalaman 4 km di bawah permukaan laut di Samudera Atlantik.

"Sekitar satu tahun yang lalu, Jeff Bezos menceritakan rencananya untuk menemukan kembali mesin-mesin F-1," kata Charles Bolden, Kepala NASA, dilansir dari Space, 22 Maret 2013.

Bolden pun menyambut gembira rencana ekspedisi yang akan dilakukan Bezos dan tim.

Bezos memang dikenal sebagai penggemar luar angkasa sejak lama. Ia dan timnya menjelajah Samudera Atlantik selama tiga minggu, dan akhirnya menemukan dua buah mesin F-1 di dasar samudera tersebut pada bulan Maret 2013 lalu. Kedua mesin yang diangkat kini telah direstorasi dan dipamerkan kepada khalayak umum.

“Setiap kepingan yang (berhasil) kami angkat ke geladak kapal, memunculkan lagi kenangan tentang ribuan teknisi yang bekerja bersama-sama (pada saat itu) untuk melakukan sesuatu yang pada saat itu dilihat sebagai sesuatu hal yang sangat mustahil untuk dilakukan,” tambah Bezos yang dikutip BBC, Kamis (21/3/2013).

Mesin F-1 yang ditemukan Bezos dan timnya merupakan sebuah mesin pendorong yang menurut agensi luar angkasa Amerika Serikat, NASA, merupakan mesin satu bilik dengan bahan bakar cair yang paling bertenaga yang pernah dikembangkan. Ada lima mesin F-1 yang dipasang dibagian bawah roket Saturn-V untuk digunakan pada program Apollo saat itu.

Dengan menggunakan kendaraan bawah laut Remotely Operated Vehicles (ROV), Bezos menemukan tumpukan mesin F-1 di kedalaman 4.270 meter.

"Sangat sulit menemukan mesin-mesin itu, mereka (mesin-mesin) sudah terkubur di dasar laut sejak 40 tahun lalu. Apalagi kandungan air garam sudah menggerogoti mesin-mesin itu," jelasnya.

Setelah hampir tiga minggu melacak keberadaannya, jejak roket itu pun akhirnya dibawa ke Pelabuhan Cape
Canaveral, di Florida, Amerika Serikat untuk direstorasi dan ditampilkan ke publik nantinya.

"Kami butuh waktu yang lama untuk merestorasinya, karena sulit memulihkan kembali mesin-mesin itu," kata Bezos. Dia menjelaskan, saat ini tim sedang berusaha menghilangkan korosi akibat dari kandungan air garam.

Setelah direstorasi mesin-mesin dari roket Apollo ini akan menjadi milik NASA dan dipamerkan kepada publik di Smithsonian's National Air and Space Museum di Washington DC, Amerika Serikat.

Astronomi


10 Fakta Astronomi

1. Matahari telah berusia sekitar 4,5 miliar tahun dan menghasilkan 383 miliar triliun kilowatt energi.


2. Petir yang terjadi di langit memiliki suhu hampir 3 kali lebih panas dari matahari.


3. Ledakan supernova mampu menghancurkan sebuah bintang secara keseluruhan.


4. Polaris atau bintang utara adalah satu-satunya bintang di langit yang nampak tidak bergerak dari malam ke malam.


5. Pluto tidak memiliki orbit tetap. Terkadang orbitnya melintasi orbit Neptunus.

6. Sebuah benda yang jatuh ke permukaan bintang neutron akan dipercepat hingga sekitar 1012m/s2, membuat benda tersebut hancur dan terurai menjadi atom-atom penyusunnya.


7. Bintang neutron memiliki kepadatan amat tinggi hingga sesendok bintang neutron akan lebih berat dari sebuah gunung! Satu sendok teh bintang neutron memiliki berat sekitar 5×10^12kg.


8. Hanya merkurius dan venus yang tidak memiliki satelit alami "bulan".


9. Setiap tahun bulan bergerak menjauh dari bumi sekitar 3 cm.


10. Bulan merupakan satu-satunya benda langit di mana manusia pernah mendarat diatasnya.

Astronomi

Apa itu Bintang?


Temen2 semua pernah liat bintang di malam hari?
Atau ngeliat Matahari di siang bolong (Jangan! Bahaya!)?
Pernah gk rasanya indah sekali melihat bintang di malam hari? Melihat bagaimana keagungan sang pencipta?

Well, pada tau gk apa itu bintang? Hayooo, jujur XD

Kalo menurut para astronom, bintang itu merupakan sebuah benda langit berupa bola gas yang bisa mengeluarkan cahaya dan menghasilkan energi sendiri (Bercahaya). Lebih spesifik lagi, bintang itu benda langit yang melakukan reaksi fusi nuklir di intinya untuk mendapatkan energi.

Fusi nuklir? Apa itu?
Fusi nuklir itu merupakan sebuah reaksi ketika suatu partikel saling bertabrakan dan bergabung membentuk unsur baru. Biasanya di inti bintang terjadi proses di mana empat buah atom Hidrogen (H) saling bertabrakan dan bergabung menghasilkan Helium (He). Nah, kondisi yang memungkinkan terjadinya reaksi fusi itu gk sembarangan lho, setidaknya dibutuhkan suhu 15 juta derajat celcius agar sebuah partikel bisa berfusi. Oh ya, fusi nuklir itu menghasilkan energi yang besar lho, makanya manusia saat ini mencoba membuat alat agar partikel bisa berfusi membentuk energi (Mesinnya udah ada satu, cuma belum optimal).

Kenapa harus melakukan fusi?
Karena benda langit yang tidak melakukan reaksi fusi di intinya, tidak bisa disebut sebagai bintang. Melihat ke definisi awal kalo bintang itu suatu benda langit yang membuat sendiri energinya. Dan, di alam semesta, secara alami energi yang berkelanjutan hanya bisa dibuat melalui proses fusi (Apabila ada kesalahan mohon diralat). Sebuah planet/katai coklat/katai hitam yang tidak melakukan fusi nuklir di intinya, tidak bisa disebut sebagai bintang.

Katanya fusi nuklir itu empat Hidrogen nyatu jadi satu Helium, kalo Hidrogennya abis gimana?
Kalo Hidrogennya abis, maka bintang mulai memfusikan Helium (He) untuk membentuk Karbon (C). Uniknya adalah, tubuh kita mayoritas tersusun dari unsur Karbon (Sama dengan makhluk hidup lain dan salah satu unsur abiotik, Tanah), jadi secara tidak langsung tubuh kita dibuat di inti bintang.
Nah, biasanya ada generalisasi alias pengelompokan. Kalo bintang yang massanya di bawah Matahari, ketika Hidrogennya abis dia bakal redup dan mati (Katai hitam). Kalo bintang yang massanya sama dengan Matahari, dia akan berfusi sampai tingkat Karbon lalu mati. Kalo bintang dengan massa di atas 3 kali massa Matahari, dia akan berfusi membentuk elemen yang lebih berat lagi (Hidrogen -> Helium -> Karbon -> Oksigen -> Magnesium, Natrium, Mangan -> Besi). Ketika sudah berfusi membentuk Besi, bintang itu akan meledak sebagai Supernova.

Apa itu Supernova?
Supernova itu kematian bintang yang massanya diatas 3 kali lipat Matahari. Ketika dia mulai berfusi membentuk Besi, maka seluruh materi bintangnya akan runtuh ke intinya, memadat, dan terlontar keluar dengan kecepatan tinggi. Materi yang terlontar tersebut akan terlihat sebagai Supernova, dan inti yang memadat itu akan menjadi bintang neutron/blackhole.

Kenapa kok hasil dari Supernova ada dua?
Tergantung dari massa bintang tersebut. Nah, definisi massa sendiri kan jumlah partikel dalam suatu benda dan satuannya dalam Kg (Definisinya beda dengan jumlah partikel dengan satuan mol). Apabila materi yang ada itu banyak, maka pemadatan itu akan mencapai titik singularitas di mana benda itu memiliki kerapatan tak terhingga (Massanya amat sangat besar, volumenya amat sangat kecil) dan membentuk Blackhole. Tapi apabila materi itu lebih sedikit, pemadatan itu gk bakal sampe ke titik singularitas, dan terbentuklah bintang neutron.

Hmm, bintang seperti Matahari bisa jadi Supernova gk?
Secara umum, tidak bisa, karena massanya kecil sehingga tidak bisa berfusi membentuk Besi (Fe), tingkatnya hanya sampai pembentukan Karbon (C), pada saat pembentukan Karbon, Matahari akan mengembang menjadi sangat besar bahkan Bumi saja bakal dilahapnya. Nanti ketika mati, Matahari hanya akan melepaskan selubungnya saja, intinya akan menjadi katai putih. Tapi, ketika sebuah bintang bermassa besar secara tidak sengaja melintas di dekat katai putih, bisa saja materi bintang tersebut tersedot katai putih dan terjadi Supernova.

Apa itu Katai Putih?
Evolusi bintang bermassa rendah seperti Matahari kita. Ukurannya hampir sama dengan Bumi namun kepadatannya melebihi Bumi. Kepadatan itu bisa dibilang sebagai jumlah partikel yang ada dalam satuan volume (Sama seperti massa jenis, kg/m^3).

Katai Putih bisa disebut bintang gk?
Bisa, karena dia pernah melakukan fusi nuklir di intinya (Di kehidupan sebelumnya), karena cahayanya berasal dari simpanan energi, bintang itu akan meredup, dan akan menjadi Katai Hitam ketika cahayanya hilang.

Emang bener ya kalo Matahari itu bintang?
Yup, karena Matahari itu memiliki reaksi fusi nuklir di intinya.

Trus, kenapa keliatannya besar? Gk sama kayak bintang di malem hari?
Karena, Matahari itu bintang terdekat dengan Bumi, jaraknya aja "cuma" 149.600.000 km, bandingkan dengan Proxima Centauri yang jaraknya 38.789.280.000.000 km, padahal bintang Proxima Centauri itu bintang terdekat kedua dari Bumi setelah Matahari.

Dan, bintang lain itu emang lebih besar ya daripada Matahari? Kok ukurannya kecil banget kalo diliat?
Walau gk semuanya, tapi rata-rata bintang itu lebih besar daripada Matahari. Kenapa keliatan kecil? Sekali lagi karena jaraknya jauh. Contohnya, bintang Sirius yang ukurannya 2x ukuran Matahari, tapi karena jaraknya 75.686.400.000.000 km (8 tahun cahaya), maka hanya terlihat seperti pasir yang berkelip2.

Oh ya, bintang itu bisa saling mengorbit gk sih?
Bisa, kalo gaya gravitasi yang ada bisa membuat dua buah bintang saling tarik menarik. Contohnya saja Alpha Centauri yang merupakan sistem tiga bintang (Alpha Centauri A, B, dan Proxima Centauri). Mereka bertiga saling mengorbit satu sama lain dan periodenya sekitar 80 tahun.

Ada lagi? ._.

Astronomi


Sebagian dari Isi Galaksi kita Bima Sakti


Melihat lebih dalam ke arah Bimasakti, tampak nebula dan gugus bintang bergerombol di sana-sini. Objek-objek ini masih dapat diamati bahkan dengan teropong sederhana. Tinggal arahkan teropong ke arah sekitar sagitarius dan skorpius, anda akan menemukan banyak sekali objek 'deep-sky' yang menarik.

Medan pandang gambar sekitar 25 derajat, diambil dengan kamera DSLR Canon 500D dengan lensa Tamron 17-50 pada 50mm f/3.2. Gambar merupakan tumpukan dari 15 citra dengan bukaan 1 menit pada ISO 800.

Sunday, March 24, 2013

Astronomi


Meteor Seterang Bulan Purnama Melintasi Manhattan


Tadi malam (waktu Amerika) sebuah meteor yang cemerlang itu terlihat naik dan turun di pertengahan Atlantik utara Amerika Serikat dari Maryland ke Manhattan lalu ke Massachusetts.

Melesat di langit tepat sebelum 8 pm EDT 23 Maret 2013 (07.00 WIB 24 Maret 2013), bola api itu disaksikan oleh ribuan orang - Meteor Society Amerika sendiri sejauh ini telah menerima lebih dari 630 laporan di situsnya dari fenomena tersebut.

Sementara gambar palsu dari meteor ini yang dengan cepat mulai beredar secara online, foto di atas adalah asli - dipotret dari kamera keamanan di Thurmont, MD.

Jadi ada apa dengan semua meteor yang mengunjungi Bumi belakangan ini?

Menurut ahli meteor NASA, Bill Cooke, bola api Jumat - yang telah dikenal sebagai "meteor Manhattan" - ini kemungkinan disebabkan oleh asteroid berukuran sekitar 3 kaki (0,9 meter) yang memasuki atmosfer bumi. Sementara bola api ukuran ini kadang-kadang menghasilkan meteorit yang mendarat di tanah, laporan terakhir dari meteor Manhattan disintegrasi mungkin berakhir di samudera Atlantik.

Kabarnya, meteor Manhattan ini seterang Bulan Purnama saat ia melintas. Meteor Manhattan memasuki atmosfer planet kita di timur Pennsylvania pada Jumat (22/3) dan melesat dari arah tenggara, menyala di atas Samudera Atlantik.

"Para saksi mata menunjukkan bahwa
meteor ini terakhir terlihat sekitar 70 kilometer ke Atlantik, jadi saya tidak percaya ada meteorit yang jatuh ke tanah dari fenomena ini," kata Cooke.

Sunday, March 3, 2013

Astronomi


"2014, Astronot India Bakal Mendarat di Bulan???"

 
Indian Space Research Organization (ISRO) telah berdiri sejak 1969. Badan antariksa asal India ini telah meluncurkan roket, membangun dan menggunakan satelit. Selain itu, ISRO akan memulai eksplorasi planet.

Dilansir Newscientist, Senin (25/2/2013), ISRO telah menguji kapsul astronot pertama di 2007 dan mereka berencana untuk membangun fasilitas latihan astronot. ISRO juga merencanakan misi pendaratan di Bulan pada 2014 dan akan meluncurkan misi ke Mars tahun ini.

Dalam sebuah percakapan dengan Susmita Mohanty (CEO Earth2Orbit) seperti dikutip Newscientist, dirinya ingin mengomersialkan kemampuan luar angkasa India, khususnya Polar Satellite Launch Vehicle. Menurutnya, satelit ini merupakan armada luar angkasa yang tercanggih di kelasnya.

"Saya ingin membuat roket pilihan untuk pembuat satelit internasional," kata Susmita. Ia mengungkapkan, roket ini akan digunakan untuk orbit rendah Bumi.

Ia menjelaskan, India bisa membangun dan meluncurkan hingga enam roket setiap tahun.
Pihaknya juga berusaha untuk mendorong batas-batas teknologi, desain serta membangun pesawat luar angkasa yang mutakhir.

Ia juga mengungkapkan gagasannya apabila terdapat konsorsium internasional yang terdiri dari ahli teknologi dari Apple, Samsung, Pininfarina, Space X serta MIT Media Lab, yang berkumpul untuk merancang dan membangun pesawat luar angkasa.

Susmita mengatakan, dengan kemunculan teknologi roket baru ini, perjalanan luar angkasa berikutnya
hanya memerlukan waktu 10 menit untuk mencapai orbit Bumi rendah.
Ia juga mengatakan dirinya ingin menciptakan perjalanan luar angkasa komersial bergaya "taksi".

"Saya bermimpi tentang taksi astronot swasta. Generasi pertama akan mengambil bayaran penumpang ke orbit. Generasi kedua akan mengangkut kami ke Bulan dan Mars," jelasnya.

Astronomi

Ahli NASA, Meteor Rusia Tidak Berhubungan dengan Asteroid 2012 DA14




     Meteor yang jatuh dan menghantam kota Chelyabinsk dan Sverdlovsk di Rusia kemarin menurut para astronom bukan disebabkan oleh melintasnya asteroid 2012 DA14 yang berarti asteroid tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan meteor jatuh di Rusia tersebut.
     Menurut ahli meteor NASA Don Yeomans, asteroid 2012 DA14 melintasi Bumi pada jarak yang masih aman sekitar 27.000 km dari Bumi dan bergerak dari Selatan ke Utara sedangkan meteor yang jatuh di Rusa tidak bergerak dari Selatan ke Utara. Selain itu adanya jeda waktu yang lama antara melintasnya asteroid tersebut dengan kedatangan meteorit di Rusia juga cukup lama sehingga disimpulkan bahwa meteorit yang jatuh di Rusia tidak ada hubungannya dengan asteroid 2012 DA14. Sebelumnya sempat terdengar kabar bahwa meteorit tersebut merupakan serpihan dari asteroid 2012 DA14 atau bahkan dikaitkan dengan serangan ufo dan alien,maka hal itu tidak benar.
      Perlu diketahui bahwa asteroid 2012 DA14 memiliki ukuran lebar 45 meter dan itu sekitar setengah dari lapangan sepak bola dan akan melintas dengan jarak terdekta dengan Bumi pada jarak 8.046 km di atas wilayah Indonesia sekitar pukul 02.30 WIB pagi.
      Astronom sendiri telah mengamati asteroid ini sejak ditemukan pada Bulan Februari 2012 dan menurut NASA baik dimasa kini maupun masa depan asteroid ini tidak akan menimbulkan ancaman bagi Bumi.

Astronomi

 Sebelas Tata Surya Baru


CALIFORNIA, — Sejumlah 11 tata surya baru yang memiliki jumlah total 26 planet ditemukan. Penemuan dideskripsikan di empat karya tulis berbeda di Astrophysical Journal dan Monthly Notice of the Royal Astronomical Society bulan ini.

Penemuan bisa dilakukan berkat jasa wahana antariksa Kepler. Dengan penemuan ini, Kepler telah mengonfirmasi 61 planet dan menemukan 2.300 kandidat planet. Penemuan sekaligus menegaskan bahwa Bimasakti dipadati tata surya dan planet.

Tata surya yang berhasil ditemukan disebut Kepler 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, dan 33. Tiap-tiap tata surya punya dua sampai lima planet. Jarak planet dengan bintang di tiap tata surya relatif dekat dengan waktu orbit berkisar dari 6-143 hari.

Lima tata surya (Kepler 25, 27, 30, 31, dan 33) punya dua planet. Satu kali revolusi planet terluar sama dengan dua kali revolusi planet terdalam. Empat tata surya lain (Kepler 23, 24, 28, 32) punya dua planet. Planet terluar mengorbit bintang dengan waktu tiga kali lebih lama dari planet terdalam.

Tata surya yang memiliki planet terbanyak adalah Kepler 33. Bintang pada tata surya ini lebih tua dan masif dibandingkan Matahari serta memiliki planet yang jarak orbitnya relatif dekat.

Ukuran planet yang terdapat di 11 tata surya tersebut bervariasi, antara seukuran Bumi hingga lebih besar dari Jupiter. Namun, masih harus diteliti lagi apakah planet tersebut merupakan planet batuan seperti Bumi dan memiliki atmosfer.

Tata surya dan planet ditemukan dengan metode planet transit, yakni melihat kedipan cahaya bintang akibat adanya planet yang lewat di mukanya. Verifikasi planet dilakukan dengan teknik variasi waktu transit.

Sejumlah peneliti yang terlibat penemuan ini adalah Eric Ford dari Universitas Florida, Dan Fabrycky dari Universitas California, Jason Steffen dari Fermilab Center for Particle Astrophysics, dan Jack Lissauer dari NASA.

Astronomi

Info TERBARU (3 Maret 2013) 


Asteroid 2013 EC melintas dekat dengan bumi.

Asteroid 2013 EC, anggota kelas Apollo, memiliki diameter antara 5 hingga 17 meter, baru ditemukan 2 Maret 2013 lalu lewat Mt. Lemmon Survey di Observatorium Mt. Lemmon, Arizona (AS). Asteroid bakal melintas- dekat Bumi pada Senin 4 Maret 2013 pukul 14:34 WIB dengan jarak perlintasan 396.000 km atau setara dengan 96 % jarak rata-rata Bumi-Bulan dengan titik terdekat ke permukaan Bumi adalah Samudera Pasifik lepas pantai timur Selandia Baru.


 Namun demikian asteroid ini takkan jatuh ke Bumi karena tak ada potensinya untuk berbenturan dengan Bumi. Pada magnitudo semu sekitar +18 saat perlintasan-dekat, asteroid 2013 CE takkan dapat dilihat meskipun telah menggunakan teleskop kecil.


Elemen orbital bersumber dari IAU Minor Planet Center yang diaplikasikan pada Starry Night. Peta bersumber dari Sky View Cafe dengan situasi terang- gelap (terang = siang hari, gelap = malam hari) dipaskan pada 4 Maret 2013 pukul 14:34 WIB.

Astronomi

Apa Itu Magnitudo?
      Magnitudo atau kadang disebut skala kecerahan, skala magnitudo bermakna semakin besar angka magnitudo maka kecerahan bintang tersebut akan semakin besar.Semakin kecil nilai magnitudo maka tingkat energi yang diterima kita di Bumi akan semakin besar.

Tingkat magnitudo ini berhubungan dengan logaritma. Rumus Pogson tentang magnitudo adalah perbedaan magnitudo sama dengan -2,5 log perbandingan fluks yang diterima di permukaan bumi.

Magnitudo Semu
Magnitudo tampak (m) dari suatu bintang, planet atau benda langit lainnya adalah pengukuran dari kecerahan atau kecerlangan yang tampak; yaitu banyaknya cahaya yang diterima dari objek itu. Istilah magnitudo sebagai skala kecerahan bintang muncul lebih dari 2000 tahun yang lampau.

Hipparchus, seorang astronom Yunani, membagi bintang-bintang yang dapat dilihat dengan mata telanjang ke dalam 6 kelas kecerlangan. Ia membuat sebuah katalog yang berisi daftar lebih dari 1000 bintang dan mengurutkan berdasarkan “magnitudo”-nya dari satu hingga enam, dari yang paling cerlang hingga yang paling redup.

Pada tahun 180-an, Claudius Ptolemaeus memperluas pekerjaan Hipparchus, dan sejak saat itu sistem magnitudo menjadi bagian dari tradisi astronomi. Pada 1856, Norman Robert Pogson meng-konfirmasi penemuan terdahulu John Herschel bahwa bintang bermagnitudo 1 menghasilkan kira-kira 100 kali fluks cahaya daripada bintang bermagnitudo 6.

Sistem magnitudo dibuat dengan mendasarkan diri pada mata manusia yang memiliki respon tidak linear terhadap cahaya. Mata dirancang untuk menahan perbedaan dalam kecerlangan. Ini adalah keistimewaan mata yang membuatnya dapat berpindah dari ruang gelap ke tempat yang terang tanpa mengalami kerusakan.

Kamera elektronik, yang memiliki respon linear, tidak dapat melakukan hal itu tanpa langkah-langkah pencegahan terlebih dahulu. Ciri-ciri yang sama juga yang membuat mata merupakan pemilah yang buruk bagi perbedaan kecil kecerlangan sementara sebaliknya kamera elektronik (CCD) adalah pemilah yang baik.

Pogson memutuskan untuk mendefinisikan kembali skala magnitudo sehingga perbedaan lima magnitudo merupakan faktor yang tepat 100 dalam fluks cahaya. Jadi rasio fluks cahaya untuk perbedaan satu magnitudo adalah 1001/5 atau 102/5 atau 2,512. Rasio fluks untuk perbedaan 2 magnitudo adalah (102/5)2, perbedaan 3 magnitudo adalah (102/5)3 dan seterusnya. Definisi ini sering disebut sebagai skala Pogson.

Karena banyaknya cahaya yang diterima bergantung pada ketebalan dari atmosfer pada garis pengamatan ke objek, maka magnitudo nampak adalah nilai yang sudah dinormalkan pada nilai yang akan dimiliki di luar atmosfer. Semakin redup suatu objek, semakin tinggi magnitudo tampaknya. Perlu diingat bahwa kecerahan yang tampak tidaklah sama dengan kecerahan sebenarnya — suatu objek yang sangat cerah dapat terlihat cukup redup jika objek ini cukup jauh.

Magnitudo absolut, M, dari suatu benda, adalah magnitudo tampak yang dimiliki apabila benda itu berada 10 parsec jauhnya.

Skala Magnitudo Tampak

Matahari : -26,8
Bulan Purnama : -12,6
Kecerahan maksimum Venus : -4,4
Kecerahan maksimum Mars: -2,8
Bintang tercerah di langit malam ( Sirius ) : -1,5
Bintang tercerah kedua di langit malam ( Canopus ) : -0,7
Titik nol berdasarkan definisi bintang Vega : 0
Bintang teredup yang terlihat di daerah perkotaan: +3,0
Bintang teredup yang terlihat dengan mata telanjang : +6,0
Quasar tercerah : +12,6
Objek teredup yang dapat diamati Teleskop Hubble : +30

Wednesday, February 13, 2013

Astronomi

KENAPA BAJU ASTRONOT BERWARNA PUTIH?


     Walaupun baju astronot ada yang berwarna selain putih, Tapi kali ini saya akan bahas baju astronot yang berwarna putih. Masih banyak orang yang beranggapan bahwa peran astronot hanyalah sebatas melakukan misi ke bulan, padahal sebenarnya lebih dari itu. Astronot merupakan profesi yang sangat dibutuhkan untuk memelihara satelit luar angkasa, di mana telepon genggam, internet, dan GPS, yang merupakan perkakas berpenggunaan masif masa kini, sangat bergantung pada keberadaannya.

Kami yakin Anda sudah sangat sering melihat astronot di berbagai kesempatan. Kita selalu mendapati bahwa pakaian astronot berwarna putih, seperti tampak pada gambar di atas. Kita tidak pernah melihat astronot memakai warna yang lain. Selalu putih. Mengapa harus warna putih? Apakah warna putih merupakan warna kesukaan NASA? Atau ada tujuan teknis tertentu?

Tentu ada tujuan teknis tertentu. Untuk memahaminya, terlebih dahulu kita perlu mengetahui kondisi tempat astronot bekerja.

Seperti yang kita ketahui, tempat kerja astronot adalah di luar angkasa. Di sana tidak ada atmosfer, sehingga astronot menghadapi ancaman radiasi berbahaya dari cahaya matahari. Radiasi tersebut tidak tersaring oleh atmosfer seperti ketika di bumi. Oleh sebab itu, baju astronot didesain untuk mencegah radiasi berbahaya tersebut “menjamah” tubuh astronot.

Setiap bahan memiliki respon tertentu terhadap radiasi. Sebagai contoh, jika suatu bahan bersifat memantulkan radiasi merah (panjang gelombang 620-750 nm) dan menyerap radiasi lainnya, maka bahan tersebut akan terlihat berwarna merah di mata kita. Prinsip yang sama berlaku untuk warna-warna lain seperti kuning (panjang gelombang 570-590 nm), hijau (panjang gelombang 495-570 nm), dan biru (panjang gelombang 450-495 nm).

Jika suatu bahan tidak memantulkan (alias menyerap) semua radiasi, maka bahan tersebut akan tampak hitam di mata kita. Itulah sebabnya, ketika kondisi gelap, warna yang tampak oleh mata kita adalah hitam, karena tidak ada radiasi cahaya yang dipantulkan ke mata kita.

Bagaimana dengan bahan berwarna putih? Radiasi cahaya apa yang dipantulkannya?

Bahan yang tampak putih di mata kita adalah bahan yang bersifat memantulkan semua radiasi. Inilah alasan digunakannya bahan berwarna putih untuk pakaian astronot. Radiasi berbahaya tidak dapat mencapai tubuh astronot karena dipantulkan kembali ke angkasa oleh bahan berwarna putih tersebut.

Pakaian berwarna putih ini juga berfungsi untuk mempertahankan tubuh astronot agar tetap hangat, karena radiasi yang dipancarkan oleh tubuh astronot itu akan terpantulkan kembali ke dalam (tidak hilang ke angkasa).

Tuesday, February 12, 2013

Astronomi

Planet Layak Huni Masih Tetangga Bumi


Pencarian planet layak huni tak perlu dicari di tempat yang jauh sebab sebenarnya mungkin ada tak jauh dari Bumi. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) melakukan ekstrapolasi hasil penemuan teleskop Kepler.

NASA terutama melihat temuan Kepler terkait bintang katai merah. Bintang ini berukuran sepertiga Matahari dan cahayanya 1.000 kali lebih redup dari Matahari. Tiga perempat bintang di Bimasakti ialah bintang katai merah.

Setidaknya satu bintang katai merah memiliki planet berukuran dua kali Bumi. NASA kemudian menganalisis 95 kandidat planet yang mengelilingi bintang katai merah dan menemukan bahwa 60 persen di antaranya adalah planet yang berukuran lebih kecil dari Neptunus.

Di antara planet-planet tersebut, kebanyakan memang tak memiliki ukuran dan temperatur yang persis Bumi. Namun, tiga planet diketahui memiliki suhu yang hangat dan ukuran mendekati Bumi. Sayang, astronom belum bisa mengonfirmasi apakah planet itu berbahan batuan seperti Bumi.

Berdasarkan studi, secara statistik diketahui bahwa sekitar 6 persen bintang katai merah memiliki planet seukuran Bumi. Karena 75 persen dari bintang terdekat adalah bintang katai merah, maka planet serupa Bumi terdekat mungkin hanya berjarak 13 tahun cahaya.

"Jika kita mencari planet serupa Bumi yang mungkin bisa mendukung kehidupan, kita tak harus mencarinya jauh-jauh seperti yang dilakukan sebelumnya," kata Courtney Dressing, astronom dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics, seperti dikutip Discovery,

keterangan foto diatas: Ilsutrasi tata surya tertua dengan bintang induk bernama HIP 11952 atau "Sannatana" dan dua planet gas raksasa.

Astronomi

400 Orang Daftar Misi Berani Mati ke Mars



     Planet Mars diproyeksi menjadi koloni manusia. Kelak, saat Bumi makin rusak dan tak bisa lagi dihuni. Untuk mewujudkan rencana itu, diperlukan sukarelawan yang berani menjadi perinti pertama di planet merah. Perjalanan dari Bumi ke Mars diperkirakan hanya makan waktu 10 bulan, namun tak ada kesempatan untuk pulang.
     Tak hanya menghadapi lingkungan Mars yang tak menentu, tanpa oksigen, tanpa air, sukarelawan juga harus siap menghadapi kondisi keterasingan, jauh dari Bumi dan manusia lainnya. Sebuah kondisi yang belum pernah dihadapi sebelumnya dalam sejarah manusia.
     Adakah orang yang nekat mengajukan diri untuk misi ke Mars? Ternyata ada. Edisi khusus Journal Cosmology menjelaskan secara detil berapa dana yang dibutuhkan untuk sekali jalan ke Mars sekitar 20 tahun mendatang. Sebanyak 400 pembaca menawarkan diri menjadi sukarelawan.
Editor jurnal, Lana Tao mengaku terkejut dengan respon para pembaca. "E-mail yang berisi keinginan menjadi sukarelawan sangat mengejutkan. Awalnya kami mengira ini hanya gurauan, namun setelah menerima banyak surat elektronik yang dilengkapi kualifikasi personal, dan alasan mereka bergabung. Kami sadar, mereka serius," kata dia.
     Apa yang membuat orang-orang ini mau jadi sukarelawan ke Mars? "Aku punya keinginan untuk menjelajahi alam semesta sejak kecil, dan tahu persis seperti apa kerja roket," kata salah satu sukarelawan, Peter Greaves. Greaves adalah ayah dari tiga anak.
Greaves menambahkan, "Aku membayangkan kehidupan di Mars akan sangat menakjubkan, menakutkan, sepi, sempit, dan sibuk."
     "Tak seperti di Bumi, aku tak bisa lagi duduk di tepi sungai, memandang takjub pemandangan alam, memeluk teman-temanku, menarik nafas dalam di udara yang segar. Tapi pengalamanku akan sangat berbeda dari 6 atau 7 miliar orang di Bumi. ini sepadan dengan apa yang kutinggalkan." Juga ada di dalam daftar, programer komputer berusia 69 tahun, mahasiswa asal Texas, perawat berusia 45 tahun, pendeta Paul Gregersen, dan pastor Clarno Zion United Methodist Church. Mereka menyatakan diri siap
meninggalkan Bumi secara permanen. "Sejalan dengan makin membludaknya manusia, satu- satunya hal yang masuk akal adalah mengeksplorasi kemungkinan manusia tinggal di tempat lain di alam semesta," kata pendeta Paul Gregersen. "Aku punya firasat, masalah spiritual akan muncul di antara para kru. Para penjelajah awal di Bumi juga selalu membawa ulama." Namun, psikolog yang bekerja untuk Badan Antariksa AS, NASA memperingatkan tak hanya persoalan spiritual yang akan dihadapi para perintis di Mars. "Ini akan menjadi periode panjang keterisolasian dan kurungan," kata Albert Horrison yang telah mempelajari psikologis astronot sejak tahun 1970. Ditegaskan dia, kehidupan di Mars tak akan seromantis yang dibayangkan. "Setelah suka cita peluncuran roket, dan sensasi menginjakkan kaki di Mars, akan sangat sulit untuk menghindari depresi. Semua hubungan dengan keluarga, teman, dan segala sesuatu yang akrab, terputus." Setiap hari, tambah dia, akan berjalan membosankan. Meski dipersiapkan dan dibekali dengan baik dari Bumi, para kru tentu saja akan menghadapi permasalahan tak terduga, yang mungkin tak bisa diatasi. "Satu per satu kru akan tua, sakit, lalu mati." Horrison mengingatkan, harus ada dukungan publik dan juga politik dalam misi ini. Jika tidak, misi ini hanya akan berakhir dengan kematian Tak cukup modal nekat Siap mental dan berani mengajukan diri sebagai sukarelawan tentu saja merupakan hal yang baik. Namun, tak cukup modal nekat. Juru Bicara NASA, James Hartsfield merujuk pada syarat pengajuan aplikasi astronot yang diposting agen antariksa itu -- meski belum tentu NASA membiayai proyek ke Mars. Untuk saat ini, persyaratan menjadi astronot adalah: punya gelar sarjana sains, teknik, atau matematika, punya pengalaman profesional.
     Para astronot NASA juga harus menjalani 4 sampai 5 tahun pelatihan sebelum terlibat dalam misi luar angkasa. Pelatihan ini termasuk tes fisik yang intensif. Para calon astronot juga harus mengikuti pelatihan pertahanan air militer sebelum memulai silabus terbang.

Astronomi

Planet Pengelana



     Sebuah planet ditemukan berkeluyuran sendirian di angkasa dan tak terlihat bintang induk di dekatnya! Planet yatim piatu ini diduga dilahirkan dengan cara yang sama dengan planet-planet normal lainnya: dari sisa-sisa materi di sekitar sebuah bintang muda. Namun, karena sesuatu dan lain hal planet ini diusir dari rumahnya.

     Planet tidak memancarkan cahayanya sendiri. Kalau kalian pernah melihat Venus, Mars, atau Jupiter di langit malam, sebenarnya kalian melihat cahaya Matahari yang dipantulkan oleh planet-planet itu. Karena planet penyendiri ini tidak dekat-dekat dengan bintang manapun, ia tidak memantulkan cahaya bintang sehingga ia sulit dideteksi. Para astronom menduga sejatinya planet-planet pengelana ini mungkin berjumlah lebih banyak daripada jumlah bintang di Galaksi kita, tetapi kita sulit untuk mendeteksinya.

     Tidaklah mudah menghitung ukuran suatu benda yang letaknya sangat jauh di ruang angkasa sana. Sama halnya jika kalian melihat kapal di cakrawala dan mencoba menebak berapa jaraknya dari kalian dan seberapa besar kapal itu. Lebih susah lagi kalau si benda sangat gelap dan berkelana di ruang angkasa. Para astronom mengaku kalau mereka bisa saja telah salah menilai ukuran si planet penyendiri ini — bahkan bisa jadi ternyata dia sama sekali bukan planet, melainkan katai cokelat! Katai cokelat merupakan obyek yang mirip bintang, berukuran lebih besar dari planet — hingga sekitar 80 kali lebih besar daripada planet Jupiter — tapi terlalu kecil untuk menjadi bintang. Berbeda dengan bintang, katai cokelat tidak membakar hidrogen di dalam intinya, sehingga mereka terlalu dingin untuk bisa bersinar.

     Apakah si obyek penyendiri ini planet atau bukan, kalian tidak bakal kepingin tinggal di sana deh. Karena melayang-layang di kegelapan malam tanpa akhir tentunya dunia kecil ini menjadi tempat yang gelap dan sunyi.

     Fakta menarik: Sebagian astronom berpendapat bahwa banyaknya planet bersendiri ini dua kali lipat banyaknya bintang di Galaksi kita, sedangkan astronom yang lain berkata ada sekitar 100.000 kali lipat!

Astronomi


7 Asteroid Paling Unik

1. Ceres
Ditemukan oleh Giuseppe Piazzi, 1 Januari 1801 . Sebagai asteroid terbesar, Ceres mendapat julukan "planet katai" (Dwarf Planet). Karena ukurannya pula, ia menjadi asteroid yang ditemukan pertama kali. Sebegitu besarnya Ceres, sehingga ia jadi satu-satunya asteroid yang memiliki gaya gravitasi untuk menarik diri sendiri ke dalam lingkaran suatu planet.

2. Baptistina
Disebut juga sebagai induk dari asteroid pemusnah dinosaurus dan merupakan salah satu anggota termuda di sabuk asteroid. Berdasarkan model komputer, Baptistina dan kawanan asteroidnya terjadi sekitar 160 juta tahun lalu. Tumbukan yang disebabkan Baptistina membuat ratusan objek langit lainnya beradu dengan Bumi. Salah satunya jatuh ke planet ini pada 65 juta tahun lalu dan memusnahkan dinosaurus. Catatan: hipotesa ini ditentang oleh beberapa teori lain.

3. Hektor, si Trojan terbesar
Asteroid ini memiliki dimensi sekitar 200 kilometer dan memiliki bulan sendiri. Ia merupakan bagian dari asteroid Trojan yang terikat dalam orbit planet Jupiter.

4. Cleopatra
Asteroid ini berbentuk seperti tulang mainan anjing dan memiliki dua bulan yang dinamai Alexhelios dan Cleoselene.

5. Themis
Asteroid ini diketahui sebagai satu-satunya yang memiliki es di permukaannya. Selain es, pada tahun 2009 , observasi menggunakan infra-merah memastikan adanya karbon dan molekul. Karakter ini membuat Themis sebagai kandidat kuat asteroid yang bisa menyokong kehidupan.

6. Toutatis
Benda langit ini dinamai sesuai dengan nama dewa bangsa Celtic. Toutatis masuk dalam karakter unik karena berotasi dengan acak, bahkan terkesan terhuyung. Hal ini kemungkinan besar terjadi karena Toutatis terdiri dari dua bagian dan dipengaruhi gravitasi Bumi dan Jupiter. Jalur rotasinya yang tidak pasti membuatnya sulit diprediksi.

7. Apophis
Ditemukan pada 2004 dan diambil dari bahasa Yunani yang berarti "Dewa jahat mesir untuk kegelapan". Sesuai namanya, asteroid ini sempat membuat kepanikan di dunia astronomi pada tahun 2004 . Apophis masuk dalam peringkat empat dari sepuluh dalam skala Torino. Skala 10 jadi patokan tertinggi atas risiko benda langit yang menumbuk Bumi dan dianggap sebagai kiamat. Apophis diprediksi akan mendekati Bumi pada 13 April 2029 dengan jarak sekitar 30 ribu kilometer.

Saturday, February 2, 2013

Astronomi


Zarmina yang merupakan Planet Kembaran Bumi


      Kapal Enterprise itu berputar. Mengitari planet jingga yang diselimuti awan tipis. Nama planet itu Fotialla. Setelah agak dekat, Kapten James Kirk turun ke permukaan. Sang komandan meluncur dengan teknologi teleportasi. Sementara, kemudi kapal diambil alih Mr Spock. Yang mereka tahu, Fotialla atau planet M-113, adalah planet tua dengan peradaban yang telah mati. Faktanya tidak. Mereka diserang oleh alien buruk rupa yang mampu bersalin wajah seperti manusia. Bahkan alien menyelusup ke dalam Enterprise dan menewaskan beberapa kru kapal.
      Ini bukan kisah nyata, melainkan salah satu adegan Star Trek dalam episode 'The Man Trap'. Semua kejadian fiksi itu digambarkan terjadi tahun 1513.1. Di skenarionya, Fotialla dikategorikan sebagai Planet kelas-M. Planet jenis ini memiliki atmosfer dengan kandungan oksigen, nitrogen, dan air yang berlimpah.
Dalam dunia nyata, klasifikasi planet kelas-M itu mirip dengan terminologi ilmiah ‘Planet Goldilock.’ Para ahli meramalkan, di planet inilah, manusia suatu saat bisa tinggal.
Akhir September 2010, sekawanan pakar pemburu planet baru, menemukan salah satu planet goldilock. Planet baru itu kemudian diberi nama Gliese 581g.
      Tim pemburu yang menemukan Gliese 581g, itu adalah Steven Vogt dari University of California (UC) Santa Cruz, Paul Butler dari Carnegie Institution, Eugenio River dari UCSC, Nader Hagahighipour dari University of Hawaii, Manoa, serta Gregory Henry dan Michael Williamson, dari Tennessee State University.
Planet 581g ini terletak di konstelasi Libra, dalam sistem tata surya bintang kerdil merah (Red Dwarf). Bintang kerdil berwarna merah itu dikatalogkan astronom Jerman Wilhem Gliese, pada tahun 1957. Guna menghormat sang penemu, bintang kerdil merah yang menyerupai matahari itu kemudian diberi nama Gliese 581.
   Gliese 581 memiliki sejumlah planet yang mengitarinya, yang kemudian diberi nama Gliese 581 dengan diimbuhi dengan abjad di belakangnya sebagai pembeda.
Planet yang paling dekat dengan bintang induk Gliese 581 diberi nama Gliese 581e, disusul Gliese 581b, dan Gliese 581c. Planet yang berada di posisi keempat adalah planet yang baru ditemukan, Gliese 581g. Dua planet di belakangnya diberi nama Gliese 581d, dan yang terjauh Gliese 581f.
Namun yang kini paling menarik perhatian adalah Gliese 581g. Sebab planet baru itu sangat mirip dengan kondisi bumi.
    Steven Vogt, penemu planet itu, kurang sreg dengan nama Gliese 581g. Planet baru ini, katanya, "terlalu cantik untuk diberi nama Gliese 581g." Vogt lebih suka menamainya Zarmina, nama istri Vogt yang tinggal di California.

Mengenal Zarmina Lebih Dekat
      Planet ini mirip dengan bumi. Ukurannya lebih besar, sekitar 20 hingga 50 persen lebih besar dari bumi. “Planet ini bisa menampung lebih banyak real estate daripada bumi,” kata Vogt setengah bercanda. Dengan ukuran sebesar itu, Zarmina tentu saja bisa mampu menampung lebih banyak mahluk hidup, termasuk manusia.
      Bagaimana keadaan di sana? Zarmina ini memiliki massa 3 hingga 4 kali lebih besar dari massa bumi. Gravitasi di permukaannya juga lebih besar, sekitar 1 hingga 1,5 lebih besar dari gravitasi bumi. Artinya, kalau kalau di bumi bobot Anda 70kg, maka di Zarmina akan melar hingga sekitar 100kg.
Kekuatan gravitasi yang lebih besar itu, membuat Zarmina mampu menahan lapisan atmosfer di permukaannya. Atmosfir memang sangat penting, terutama untuk menjaga tekanan air, agar tetap bisa berwujud cair.
      “Dari data yang kami kumpulkan planet ini berada di jarak yang tepat untuk menemukan keberadaan air, dan massa planet ini juga tepat untuk keberadaan atmosfir,” kata Paul Butler, peneliti dari Carnegie Institution of Washington, yang membantu Vogt. Dengan posisi seperti itu, Zarmina mungkin saja bisa dihuni manusia.
Ahli Riset Astronomi Astrofisika dari LAPAN, Profesor Dr. Thomas Djamaludin, menegaskan bahwa setidaknya ada tiga syarat utama sebuah planet bisa dihuni. Yakni sumber panas (matahari), air dan kehidupan organik. Dari indikasi yang ditemukan para ahli, Zarmina sudah memenuhi dua dari tiga syarat tadi.
     Jarak Zarmina dengan matahari ( Gliese 581) sekitar 0,15 satuan astronomi (SA). Dan 1 satuan SA setara dengan jarak bumi dengan matahari, atau sekitar 150 juta km.
      Artinya, jarak Zarmina dengan mataharinya (Gliese 581) 7 kali lebih dekat daripada jarak bumi ke matahari. Bila bumi memiliki revolusi selama 364 hari, Zarmina hanya memerlukan 37 hari guna menuntaskan sekali putaran di orbitnya.
      Karena Gliese 581 jauh lebih kecil dari ukuran matahari yang dikitari bumi, bintang itu tak akan sepanas matahari. Oleh karenanya, suhu rata-rata permukaan Zarmina, diperkirakan berkisar antara -31 hingga -12 derajat Celsius.
      Namun temperatur aktual planet ini cukup ekstrim. Bisa sangat panas. Bisa pula sangat dingin. Menurut Vogt, di antara kawasan panas dan dingin, terdapat wilayah terminator.
Pada wilayah terminator yang dilewati garis khatulistiwa, suhunya terasa hangat, seperti di Meksiko atau Ekuador, di mana penghuni di sana masih cukup nyaman mengenakan kaus berlengan.
Di wilayah yang panas, angin akan bertiup dengan kecepatan 30-40 mil per jam. Sementara di tempat yang dingin, angin berhembus dengan kecepatan hingga 10 mil per jam.
      Uniknya, lantaran letaknya cukup dekat dengan bintang induk, Zarmina sama sekali tidak melakukan rotasi seperti bumi. Untuk mempertahankan posisinya dari tarikan gravitasi matahari (Gliese 581), posisi Zarmina terkunci.
      Permukaan yang menghadap matahari akan tetap mendapat cahaya dan panas, sementara permukaan sebelah belakang akan gelap dan dingin sepanjang masa. Oleh karenanya, di planet itu tidak ada siang dan malam. Bagian yang menghadapi matahari selalu siang dan bagian sebaliknya, malam selalu.

Sejak 11 Tahun Lalu
      Penemuan ini adalah hasil jerih payah Steven Vogt dan timnya, yang mengawali penelitian yang disponsori National Science Foundation dan NASA, sejak 11 tahun lalu.
      Vogt, adalah Profesor astronomi dan astrofisika yang telah melakukan observasi di berbagai riset UCSC dan University of California Observatories, sejak 1978. Vogt adalah orang yang mendesain spektrometer HIRES, yang digunakan untuk mengukur kecepatan radial sebuah bintang.
      Menurut Kepala Observatorium Boscha Lembang, Hakim L Malasan, Vogt adalah salah satu tokoh pionir dalam penemuan planet yang layak huni, selain Prof Michel Mayor dan Didier Queloz yang pada 1995 menemukan planet ekstrasolar (planet-planet di luar tata surya) pertama, di sistem bintang 51 Pegasi.
      Penemuan Zarmina sendiri disandarkan pada penelitian-penelitian di Observatorium WM Keck di Mauna Kea, Hawaii, yang dikombinasikan dengan data-data dari Observatorium Geneva Swiss, yang sebelumnya sudah menemukan empat planet Gliese lain.
      Ini memang seperti berada di perbatasan antara fiksi dan kenyataan. Para peneliti sendiri tak pernah melihat langsung planet Zarmina melalui teleskop, karena teleskop hanya bisa melihat cahaya dari bintang induk Gliese 581.
      Mereka hanya bisa menganalisa adanya planet-planet - termasuk Zarmina, dengan menggunakan spektrometer yang mampu mengukur kecepatan radial bintang Gliese 581.
      Gaya tarik menarik antara bintang Gliese 581 dengan Zarmina, menyebabkan bintang induk mengalami pergerakan dan berputar pada orbit yang kecil. Dengan mengamati kecepatan radial itulah, kemudian planet Zarmina terdeteksi dan dapat diperkirakan massa dan orbitnya.
      Penemuan Zarmina sendiri dicapai melalui perdebatan dan kompetisi yang cukup seru di kalangan para peneliti. Untuk mengumpulkan data-data, setiap tahun Tim Vogt hanya memiliki 15 hari untuk menggunakan teleskop, yang diantre oleh begitu banyak tim yang meriset berbagai obyek penelitian.
     Tim Vogt sempat berkonflik dengan Observatorium Geneva, ketika mereka meminta data-data yang sangat penting. "Saya sempat mengatakan kepada pihak Swiss bahwa ini adalah kerja keras dan dan kita harus melewati tahapan di mana, 'Data kami lebih sempurna dan data Anda tidak, dan seterusnya, dan seterusnya,'" kata Vogt.
     Untungnya, Vogt berhasil meyakinkan pihak Swiss untuk membagi data-data guna menuntaskan risetnya. "Saling membantu satu sama lain, adalah cara terbaik untuk menemukan kebenaran," ujarnya.

Planet Habitable Selanjutnya
      Penemuan Vogt itu disanjung para ilmuwan ternama. Salah satunya adalah Sara Seager, pakar Eksoplanet (planet-planet di luar tata surya) dari MIT. “Penemuan ini sangat incremental dan monumental,” kata Sara.
      Menurutnya, riset-riset yang dilakukannya telah menemukan beberapa planet yang lebih kecil dan letaknya dekat dengan zona yang bisa ditinggali manusia (habitable zone). Tapi, dia melanjutkan, “Ini adalah planet yang benar-benar berada di habitable zone.”
      Disanjung begitu rupa, Vogt dan Butler tetap merendah. Penemuan ini, kata Vogt, bukanlah puncak dari pencapaian astronomi. Zarmina, katanya, cuma pemicu awal yang akan membawa ke berbagai penemuan planet-planet Goldilock berikutnya.
      "Planet ini begitu dekat, dan kami menemukannya dengan cukup singkat. Boleh jadi, kami akan menemukan yang seperti ini lagi," kata Vogt.
      Di luar Zarmina, diperkirakan masih ada lebih dari 400 planet ekstrasolar yang menunggu ditemukan. Namun, seperti kata Profesor Thomas Djamaluddin, penemuan planet-planet habitable saat ini lebih pada tujuan penemuan terhadap kemungkinan adanya kehidupan mahluk cerdas lain selain manusia.
      Sementara untuk tujuan untuk membangun koloni manusia di planet tersebut, masih belum terpikirkan. “Itu masih lebih mirip dengan cerita science fiction,” kata Djamaluddin. Sebab, untuk mencapai planet Zarmina yang jauhnya sekitar 20 tahun cahaya (sekitar 200 triliun km), butuh waktu yang sangat lama.
      Menurut Vogt, sebuah pesawat luar angkasa berkecepatan sepersepuluh kecepatan cahaya (kecepatan cahaya adalah 300 ribu km per detik), baru akan membawa manusia sampai ke planet itu dalam waktu 220 tahun.
      Saat ini, mungkin hanya Kapten Kirk dengan USS Enterprise-nya yang bisa membawa manusia ke Zarmina. Kecepatan aman USS Enterprise yang mencapai 5 Warp (sekitar 100 kali kecepatan cahaya) secara teoritis bisa membelah jarak bumi ke Zarmina hanya dalam tempo kurang dari 2 jam.

Astronomi


Ada Oksigen di Bulan Titan Milik Saturnus!!!



Rhea, bulan berbalut es milik planet Saturnus ternyata memiliki atmosfir yang mengandung oksigen dan karbondioksida yang sangat mirip dengan atmosfir planet Bumi. Menariknya, temuan itu membuka peluang adanya kehidupan di Rhea dan kemungkinan manusia bisa bernafas di sana.

Tampaknya, jumlah oksigen di Rhea jauh lebih banyak dibandingkan yang diperkirakan oleh astronom selama ini. Khususnya karena bulan tersebut tampaknya sangat beku dan padat.

Menurut data terakhir dari satelit Cassini, atmosfir tipis milik Rhea dijaga oleh dekomposisi kimia dari air es di permukaan Rhea. Diperkirakan, magnetosfer yang sangat besar dari Saturnus terus mengimbas ke air es Rhea, dan kemudian membantu menjaga kondisi atmosfir tersebut.

Saat ini, seperti dikutip dari io9, 27 November 2010, menurut pengamatan para astronom, diperkirakan oksigen milik Rhea tidaklah bebas. Namun terjebak di dalam samudera Rhea yang membeku.

Meski hadirnya oksigen di Rhea mudah dipahami, astronom lebih tertarik dengan karbondioksida yang ada di bulan itu. Gas yang tampaknya terjadi akibat reaksi antara molekul organik dan oksidan yang ada di permukaan bulan.

Jika demikian adanya, hal ini persis dengan kejadian yang berlangsung di planet Bumi, beberapa miliar tahun yang lalu.

Temuan ini juga merupakan bukti lebih lanjut bahwa ada kehidupan lain di sistem tata surya kita. Meski tampaknya hanya kehidupan di Bumi yang mengalami kondisi yang cukup bagus sehingga dapat bertahan hingga sejauh ini.

Dengan mensimulasi proses kimia yang mungkin berada di atmosfer Titan, bulan terbesar Saturnus, sebuah tim peneliti dipimpin ilmuwan Universitas Arizona menemukan asam amino dan basa nukleotida – bahan yang paling penting dari kehidupan di bumi.
Dalam sebuah percobaan mengeksplorasi proses kimia yang mungkin terjadi dalam atmosfir berkabut di bulan terbesar Saturnus, sebuah tim yang dipimpin ilmuwan Universitas Arizona, menemukan berbagai molekul organik kompleks – termasuk asam amino dan basa nukleotida, bahan yang paling penting bagi kehidupan di Bumi.
“Tim kami adalah yang pertama untuk dapat melakukan hal ini dalam atmosfir tanpa zat cair. Hasil kami menunjukkan, adalah mungkin membuat molekul yang sangat kompleks di bagian luar atmosfer,” kata Sarah Horst, seorang mahasiswi pascasarjana di UA Lunar and Planetary Lab, yang memimpin upaya penelitian internasional bersama dengan penasehatnya, profesor ilmu planet, Roger Yelle.
Molekul yang ditemukan termasuk lima basa nukleotida yang digunakan pada kehidupan di Bumi untuk membangun materi genetik DNA dan RNA: sitosin, adenin, timin, guanin dan urasil, serta dua asam amino terkecil, glisin dan alanin. Asam amino adalah blok bangunan protein.
Horst menyajikan temuan itu pada pertemuan tahun ini di Planetary Science Division dari American Astronomical Society di Pasadena, California pada tanggal 7 Oktober.

Partikel kecil yang dianggap menciptakan kabut asap yang menyelimuti bulan Saturnus, Titan.
Hasilnya menunjukkan bahwa tidak hanya atmosfir Titan yang bisa menjadi kolam molekul prebiotik yang berfungsi sebagai batu loncatan untuk kehidupan, tetapi mereka menawarkan perspektif baru tentang munculnya kehidupan di darat juga: Daripada penggabungan dalam sebuah sup primordial, unsur-unsur pertama kehidupan di planet kita mungkin dihujani dari kabut primordial di atmosfer.
Yang eksentrik dari sistem surya
Titan telah begitu mempesona – dan membingungkan – para ilmuwan untuk waktu yang lama.
“Ini adalah satu-satunya bulan di tata surya kita yang memiliki atmosfer yang cukup besar,” kata Horst. “Atmosfernya membentang lebih jauh ke angkasa daripada Bumi. Bulan lebih kecil sehingga memiliki gravitasi yang kurang untuk menariknya.”
Atmosfer Titan juga terlalu padat: Di permukaannya, tekanan atmosfer sama dengan di dasar kolam sedalam 15-kaki di Bumi.
“Pada saat yang sama, atmosfer Titan lebih mirip dengan atmosfer kita daripada atmosfer lain di tata surya,” kata Horst. “Bahkan, Titan telah disebut ‘Bumi membeku dalam waktu’ karena beberapa orang percaya planet tersebut merupakan apa yang bisa tampak pada bumi seperti awal waktu.”
Ketika Voyager I terbang di atas Titan pada tahun 1980, gambar-gambar yang ditransmisikan kembali ke bumi menunjukkan bola orange yang kabur.
“Untuk waktu yang lama, itu saja yang kita tahu tentang Titan,” kata Horst. “Yang terlihat hanyalah atmosfer, bukan permukaan bulan. Kami tahu bulan itu memiliki atmosfer dan mengandung metana serta molekul organik kecil, tapi hanya itu saja.”
Sementara itu, para ilmuwan mengetahui bahwa kabut Titan terdiri dari aerosol, seperti kabut asap yang menyelubungi banyak wilayah metropolitan di Bumi. Aerosol, partikel kecil sekitar seperempat juta inci, mirip bola salju kecil bila dilihat dengan mikroskop elektron berkuatan tinggi.
Sifat dari aerosol Titan masih merupakan misteri. Apa yang membuat mereka begitu menarik bagi para ilmuwan planet adalah bahwa mereka terdiri dari molekul organik – bahan potensial bagi kehidupan.
“Kami ingin tahu jenis kimia apa yang dapat terjadi di atmosfer dan seberapa jauh ia bisa bertahan.” Kata Horst. “Apakah kami membicarakan molekul kecil yang dapat berlanjut menjadi hal-hal yang lebih menarik? Bisakah protein terbentuk di atmosfer itu?”
Apa yang diperlukan untuk membuat molekul kehidupan?
Untuk itu terjadi, energi dibutuhkan untuk memecah molekul sederhana atmosfer – nitrogen, metana dan karbon monoksida – dan mengatur ulang fragmen menjadi senyawa yang lebih kompleks seperti molekul prebiotik.
“Ini tidak mungkin bisa terjadi di permukaan Titan,” kata Horst. “Kabut itu begitu tebal di mana bulan diselubungi dalam kegelapan senja yang abadi. Plus, pada -192 derajat Fahrenheit, air es yang kita duga melingkupi permukaan bulan sama kerasnya dengan granit.”
Bagaimanapun juga, bagian atas atmosfer terkena pembomanan konstan dari radiasi ultraviolet dan partikel bermuatan yang berasal dari matahari dan dibelokkan oleh medan magnet Saturnus, yang dapat memicu reaksi kimia yang diperlukan.
Untuk mempelajari atmosfer Titan, para ilmuwan harus mengandalkan data yang dikumpulkan oleh pesawat ruang angkasa Cassini, yang telah menjelajahi sistem Saturnus sejak tahun 2004 dan terbang di atas Titan rata-rata setiap beberapa minggu.
“Dengan Voyager, kami hanya melihat,” kata Horst. “Dengan Cassini, kami bisa sedikit menyentuh bulan.”
Selama terbang bermanuver, Cassini telah melahap beberapa molekul pada bentangan terluar atmosfer Titan dan dianalisis dengan spektrometer massa. Sayangnya, instrumen ini tidak dirancang untuk mengungkap identitas molekul yang lebih besar – persisnya jenis yang ditemukan mengambang dalam jumlah besar di dalam kabut misterius Titan.
“Cassini tidak bisa terlalu dekat dengan permukaan karena atmosfernya yang menahan pesawat ruang angkasa itu,” kata Horst. “Yang terdalam yang bisa dicapai adalah 900 kilometer (560 mil) dari permukaan. Tidak bisa lebih dekat dari itu. “
Untuk menemukan jawaban, Horst dan rekan-rekan kerjanya harus menciptakan atmosfer Titan di Bumi. Lebih tepatnya, di laboratorium di Paris, Perancis.
“Pada dasarnya, kami tidak dapat mereproduksi atmosfer Titan di laboratorium, tetapi harapan kami adalah, dengan melakukan hal simulasi, kami dapat mulai memahami kimia yang mengarah pada formasi aerosol,” kata Horst “Kita kemudian dapat menggunakan apa yang kita pelajari di lab dan menerapkannya pada apa yang sudah kita ketahui tentang Titan.”
Seperti mata-mata dalam sebuah film
Horst dan para kolaboratornya mencampurkan gas-gas yang ditemukan di atmosfer Titan pada ruang reaksi terbuat dari stainless-baja dan mengenakan campuran pada gelombang yang menyebabkan pelepasan gas – proses yang sama untuk membuat neon bersinar – untuk mensimulasikan energi menghantam pinggiran luar dari atmosfer bulan.
Debit listrik menyebabkan beberapa bahan baku gas mengikat bersama-sama menjadi zat padat, mirip dengan cara sinar matahari UV menciptakan kabut di Titan. Ruang sintesis, yang dibangun oleh grup berkolaborasi di Paris, adalah unik karena menggunakan medan listrik untuk menjaga aerosol dalam keadaan mengapung.
“Aerosol terbentuk selagi mereka mengambang di sana,” jelas Horst. “Begitu mereka berkembang menjadi cukup berat, mereka jatuh ke bagian bawah bejana reaksi dan kami mengikis mereka keluar.”
“Dan kemudian,” ia menambahkan, “sampel melanjutkan petualangan.”
Untuk menganalisis aerosol, Horst harus menggunakan spektrometer massa beresolusi tinggi di laboratorium di Grenoble, sekitar tiga jam perjalanan dari Paris dengan TGV, kereta berkecepatan tinggi Perancis.
“Saya selalu bercanda bahwa saya merasa seperti seorang mata-mata di film karena saya mengambil sampel kami, menempatkan mereka ke dalam botol kecil, menyegel mereka semua dan kemudian saya naik TGV, dan setiap 5 menit saya membuka koper, ‘Apakah mereka masih ada di situ? Apakah mereka masih ada di situ?’ Sampel-sampel itu benar-benar sangat berharga.”

Sebuah jendela menuju atmosfer Titan: Dengan menggunakan energi dari gelombang mikro, campuran gas di dalam ruang reaksi reaksi menyala seperti neon pink. Ribuan molekul organik kompleks mengakumulasi di bagian bawah ruangan selama percobaan ini.
Dengan menganalisis reaksi produk dengan spektrometer massa, para peneliti mengidentifikasi sekitar 5.000 rumus molekul yang berbeda.
“Kami benar-benar tidak tahu berapa banyak molekul dalam sampel ini selain bahwa itu cukup banyak,” kata Horst. “Dengan asumsi setidaknya ada tiga atau empat variasi struktural dari masing-masingnya, kami membicarakan hingga 20.000 molekul yang bisa ada di situ. Jadi dalam beberapa cara, kami tidak terkejut bahwa kami sedang membuat dasar nukleotida dan asam amino.”
“Spektrometer massa memberitahu kami atom apa yang membentuk aerosol, tetapi tidak mengatakan kepada kami struktur molekul-molekulnya,” kata Horst. “Apa yang benar-benar ingin kami ketahui, formula-formula apa yang ada di dalam spektrum massa?”
“Selagi iseng, kami berkata, ‘Hei, itu akan sangat mudah jika menuliskan daftar rumus molekul dari semua asam amino dan basa nukleotida yang digunakan dalam kehidupan di Bumi dan memiliki komputer untuk menyelesaikannya’.”
“Suatu hari saya sedang duduk di depan komputer saya – saya baru saja menulis daftar – dan saya menimpan file ke dalamnya, menekan ‘Enter’ dan pergi untuk melakukan sesuatu,” katanya. “Ketika saya kembali dan melihat layar, komputer mencetak daftar semua hal-hal yang telah ia temukan dan saya duduk di sana dan memperhatikannya untuk sementara waktu. Aku berpikir: Itu tidak mungkin.”
“Saya berlari ke atas untuk menemui Roger, penasihat saya, dan dia tidak ada di sana,” kata Horst sambil tertawa. “Saya kembali ke kantor saya, dan kemudian ke atas lagi untuk menemukan dia dan dia tidak ada. Ini sangat menegangkan. “
“Kami tidak pernah mulai berkata, ‘kami ingin membuat hal-hal ini’, ini lebih seperti ‘hei, mari kita lihat apakah mereka ada di sana’. Anda telah punya semua potongan-potongan kecil melayang di dalam plasma, dan jadi kita akan mengharapkan mereka membentuk macam-macam hal.”
Selain nukleotida, unsur-unsur kode genetik dari semua kehidupan di Bumi, Horst mengidentifikasikannya lebih dari setengah formula molekul untuk 22 asam amino yang hidup yang digunakan untuk membuat protein.
Titan: Sebuah jendela menuju Bumi di masa lalu?
Dalam beberapa cara, Horst mengatakan, penemuan molekul kehidupan Bumi dalam percobaan suasana asing adalah ironis.
Berikut ini alasannya: Sifat kimia yang terjadi di Titan mungkin mirip dengan yang terjadi di bumi awal yang menghasilkan bahan biologis dan akhirnya mengarah pada evolusi kehidupan. Proses ini tidak lagi terjadi di atmosfer bumi karena kelimpahan besar oksigen memotong pendek siklus kimia sebelum molekul besar memiliki kesempatan untuk membentuk. Di sisi lain, beberapa oksigen diperlukan untuk membuat molekul biologis. Atmosfer Titan muncul untuk menyediakan hanya cukup oksigen untuk memasok bahan baku bagi molekul biologis, tetapi tidak cukup untuk memenuhi pembentukan mereka.