Wednesday, February 13, 2013

Story

MALAM PERTAMA

Kamar pengantin itu wangi sekali. dihias sedemikian rupa hingga sprei dan gorden berwarna senada. Di pinggir ranjang tersedia sebuah meja mungil berisi keranjang yang penuh dengan buah-buahan, ada apel, anggur, jeruk, dan pir, menggiurkan sekali! Di samping keranjang, ada teko berisi susu dan satu gelas cantik. Ya, hanya satu gelas! Jadi kalau ingin meminum susu itu, sepasang sejoli yang sedang berbahagia, pengantin baru itu, harus minum dari gelas yang sama tersebut. Ah, si penata kamar pengantin sudah sangat lihai memperhatikan setiap detail yang bisa menambah kesan malam pertama mereka.
Tidak sampai disana, di meja yang sama, si penata kamar pengantin juga menyediakan sebotol madu dan setoples cokelat berukuran mini. Ah, tentu saja ini juga digunakan untuk aktivitas malam pertama si pengantin baru. Si penata kamar benar-benar merancang agar malam pertama si pengantin tidak akan terlupakan selamanya.
“Semoga saja nanti mereka bisa menggunakan semua yang sudah disediakan di kamar ini dengan baik” harap si penata kamar pengantin, memperhatikan sekeliling kamar yang baru saja diriasnya.
Pukul 21.00 WIB, suasana rumah mempelai wanita masih lumayan ramai. Orang tuanya yang termasuk orang terhormat menjadikan pesta ini banyak dikunjungi tamu. Silih berganti datang dan pergi. Mulai dari rakyat biasa hingga pejabat pemerintahan dan saudagar-saudagar kaya. Hidangan pesta juga sudah diganti berkali-kali. Meriah sekali.
Di pelaminan, dua simpul senyum itu tampak indah, Nurul dan Hendrik. Dua sejoli yang belum lama kenal, jika tidak salah mereka hanya kenal enam bulan dan kemudian memutuskan menikah. Keduanya memang sudah terbilang cukup matang dalam hal usia dan materi, maka tidak dibutuhkan waktu lama untuk memutuskan menikah.
“Bang ke kamar yuk…” rengek Nurul sambil mencubit pinggang Hendrik. Sambil tetap melemparkan senyum kepada semua pengunjung yang datang.
“Eh iya, bentar lagi ya dek, masih banyak tamu.. nggak enak” jawab Hendrik menghindar.
“Ah, mereka juga pasti tau lah..” Nurul manja, “Yuk bang” kini Nurul sudah berdiri.
Hendrik sudah tidak bisa menolak sama sekali. Ia pun bangkit dan menggandeng istrinya ke kamar pengantin. Beberapa panitia dan juru masak berkali-kali berpas-pasan dengan mereka dan tersenyum. “Cie udah nggak sabar ya mas..” ledek mereka ke Hendrik.
“Eh anu.. iya bu.. kami istirahat dulu ya..”
Sesampainya di kamar pengantin yang indah itu, Hendrik menguncinya. Dan serta merta Nurul menghambur ke Hendrik dan menciumi suaminya. Entahlah mengapa malam ini Nurul begitu agresif. Padahal selama Hendrik kenal dulu, Nurul adalah sosok yang kalem dan pendiam.
Hendrik kikuk dan berusaha mengimbangi Nurul yang sudah memburu. Masih dengan posisi berdiri, Nurul berusaha menanggalkan satu demi satu pakaian Hendrik.
“Dek bentar ya.. sabar..” tiba-tiba Hendrik menahan Nurul untuk bersabar. Di dorongnya bahu Nurul halus.
“Kenapa bang? Kita kan sudah suami istri, ini malam pertama kita bang..”
“Iya, abang tau.. tapi semua itu nggak harus dilakuin malam ini kan? Masih ada malam-malam lainnya” ujar Hendrik belum siap memberikan nafkah batin.
Nurul diam, tidak bisa berkata-kata.
“Abang masih lelah dek. Beberapa hari ini kan ngurusin pernikahan kita kesana-kemari” Hendrik memberikan alasan, “Mending kita menikmati hidangan itu dulu” ujar Hendrik sambil menunjuk sekeranjang buah, seteko susu, cokelat, dan madu di meja mungil nan indah di kamar itu.
Walau tugas Hendrik belum terlaksana malam itu, Nurul akhirnya bisa menikmati setiap gurauan dan romantisme yang diciptakan Hendrik. Hingga keduanya pun terlelap.
Di pagi hari yang baru saja menjanin, rumah Nurul sudah sepi. Kursi-kursi tamu dan meja tempat hidangan masih berantakan. Belum sempat dibereskan. Semua panitia, dari juru masak dan panitia lainnya sudah terlelap. Sedangkan di kamar pengantin, Nurul sudah masih terlelap, masih mengenakan gaun pengantinnya lengkap. Lihatlah, betapa cantiknya ia.
Hendrik terbangun, ia lirik jam dinding di kamar itu, pukul 03.14 WIB. Ia raih hapenya di meja dan menghidupkannya. Beruntun beberapa sms masuk. Dilihat satu persatu sms itu, sebagian besar adalah ucapan selamat menempuh hidup baru dengan versi yang berbeda, kecuali satu sms yang bukan. Dari kekasihnya dulu.
“Malam ini, saat kau sedang berdua bersama istrimu, aku sendiri. Meratapi nasib! Tak kusangka, kau begitu mudah melupakan semua yang sudah kita lewati bersama dalam dua tahun ini! tapi biarlah aku sendiri di pojok ruang sepi dan gelap ini. Aku tetap mendoakan yang terbaik untuk mu. Semoga kau bahagia Hendrik! Terimakasih atas malam-malam yang indah selama ini”.

No comments:

Post a Comment