Monday, April 1, 2013

Story


Shoot me, please!

Gue bosen! Gue bosen kalau harus njalanin hubungan yang menyakitkan ini. Gimana engga coba, masa dia ada buat gue cuma pada saat butuh doang. Gue punya hati, men! Hati gue lembut dan terlalu ringkih buat nerima segala perlakuan 'freak' dia. Berjuta-juta nasehat dan keluh kesah udah gue keluarkan semua sama dia. Tapi dia cuma bilang maaf, lalu dia ngulangin hal yang sama terus menerus. Sakit coy, rasanya dikayak gituin ama pacar sendiri. Jadi keputusan gue udah kotak, nggak bulat lagi. Gue hari ini harus nyelesain duduk perkara ini ke meja hijau percintaan, untuk mem-vonis pacar gue, Donita, dengan sanksi 'putus'.

Ok. Saat ini yang harus gue lakuin adalah nemuin dia buat ngomongin masalah sakral ini.

*

Saat ini gue sama pacar gue udah duduk bersebelahan kayak dalam angkot. Gue bingung, mber! Bijimane caranya mengawali sebuah kata yang sepertinya sangat sulit terucap dikala saat-saat genting seperti ini. Bantu gue ya, mber, caranya dengan ngomong 'Bimsalabim jadi apa prok prok prok' (aish :p ). Dengan sedikit gemetar gue mulai membuka suara maskulin gue.

"Nita...." ucap Gue setengah kelimpungan.

"Iya, mas Roni, sayang!" jawab Donita setengah nge-rapp.

Setelah kata pembuka itu, mulut gue terasa kaku. Kayaknya seluruh darah di badan gue, berkumpul semua di bibir gue. Gue seperti terkena stroke mendadak. Gua nggak tau bunyi alfabet ataupun sekedar untuk bersendawa. Gue bisu mendadak, mber. Tolongin gue mber, apa yang harus gue ucapin lagi? (Member said: itu urusan lo min, ngapain juga kita para pembaca yang ribet. ><)

Ditengah kebisuan mendadak gue, suara lembut layaknya kapas kasur itu membuyarkan kegelisahan yang gue dera.

"Ada apa, Sayang? Kok dari tadi diem aja kayak uang koin gopekan?" ucap Donita nyelekit.

Sialan, mber, masa gue disamain sama uang gopekan. Nasip..nasip kalo punya tampang kayak penyakit masuk angin. Mereka pada demen pengen ngerik punggung yang kena masuk angin pake uang gopekan. Sungguh terlaaluuu.

"I..iya, sayang!" akhirnya penyakit bisu gue mulai berkompromi. "Sebelumnya terimakasih udah warnain hidup gue selama ini. Kau memang seperti cat yang tergores di atas kanvas cintaku yang murni untukmu!" ucap gue puitis.

"Iya, sayang. Sama-sama. Bagiku kau juga seperti sepatu dan kaos kaki yang saling melengkapi." ucapnya tak kalah puitis.

"Kau ingat dulu, saat pertama kali kita bertemu di tempat pelelangan ikan?" gue flashback.

Donita mengangguk sambil jari telunjuk di depan wajahnya tepat. "Iya, gue inget. Pada saat itu gue lihat mas Roni lagi ngejemur ikan di pinggir laut. Tanpa disengaja, kayak di sinetron-sinetron yang tiap malem gue tonton, sapu tangan yang baru saja gue pake buat ngelap ingus itu terbang terbawa angin. Dan sapu tangan itu mendarat tepat di wajah abang." ucapnya sumringah.

Aish! Kenapa harus kejadian naas itu yang dia omongin coba? Gue kan malu!

"Iya, itu. Itulah awal kita ketemu. Romantis, yah!" ucap gue bo'ong. Padahal faktanya yah, mber. Pas kejadian itu gue pengen pink sun (ngejungkel,red). Ampun dah, mber. Bau sapu tangan bekas ingusnya itu, lho. Baunya melebihi ikan yang gue jemur. Apalagi sapu tangan itu dihiasi sentuhan tangan kreatif yang membentuk sebuah seni dengan hasil akhir sebuah cairan berlendir warna ijo. Ieuwww! Jorok banget, mber. Sebel! Sebel! Eike jadi sebel!.

"Kalau inget kejadian itu, gue seneeng banget!" kata Donita kepedean.

'Seneng pala lo peyang?' batin gue empet. "Hehe. Iya yah, indah!" ucap gue akhirnya dengan luka yang tergores rapi di hati.

"Lha, terus sebenernya abang nyuruh gue ke sini buat apa?" kata Donita membuat mulutku bisu mendadak (lagi).

Dengan tampang polos layaknya kain yang belum ada motifnya, gue pun mencobamenjawab dengan tenang.

"Engg...sebenernya gue ngajak elo kesini, karena gue pengen kita..." ucap gue menggantung dengan indah. "Gue pengen kita putus," ucap Gue akhirnya.

"Putus? Kenapa bang, kenapa abang pengen putus?"

"Gue ngerasa kalo kita sama sekali tidak ada kemistri lagi. Kita sudah nggak cocok! Lagian kalau kita terus lanjutin hubungan ini, pasti akan lebih menyakitkan. Khususon buat gue."

"Enggak! Gue nggak mau kita putus."

"Sudahlah, Donita! Gue nggak bisa njalanin ini semua. Gue nggak sanggup."

"Tapi bang.. gue minta maaf kalo gue punya salah. Gue nggak pengen putus."

"Maaf. Tapi gue udah dijodohin sama bonyok gue. Dan gue menyetujuinya." ucap gue bener-bener bo'ong.

Plak. Tamparan beringas mendarat telak dipipi gue. "Jadi elo cuma mau nyakitin hati gue bang? Elo tega sama gue! Elo jahat! Gue benci sama elo!" ucapnya lalu berlari meninggalkan gue dengan air mata yang keluar dari pelupuk matanya.

'Mungkin, dengan cara membohongi elo seperti ini, gue bisa lepas dari elo. Biarin orang bilang gue egois. Tapi ini pilihan gue. Selamat tinggal mantan pacarku!' batinku perih.

-selesai-

Astronomi


Mesin Roket Misi Apollo Ditemukan di Laut Atlantik


Mesin roket Apollo yang telah berhasil membawa astronot ke bulan pada 40 tahun lalu, dianggap sudah hilang setelah jatuh ke laut.
Namun, sebuah ekspedisi swasta yang dipimpin oleh pendiri Amazon.com, Jeff Bezos, telah berhasil menemukannya.

Dua buah mesin yang digunakan dalam fase pertama roket Saturn yang digunakan dalam misi Apollo, kini telah ditemukan dan berhasil diangkat dari kedalaman 4 km di bawah permukaan laut di Samudera Atlantik.

"Sekitar satu tahun yang lalu, Jeff Bezos menceritakan rencananya untuk menemukan kembali mesin-mesin F-1," kata Charles Bolden, Kepala NASA, dilansir dari Space, 22 Maret 2013.

Bolden pun menyambut gembira rencana ekspedisi yang akan dilakukan Bezos dan tim.

Bezos memang dikenal sebagai penggemar luar angkasa sejak lama. Ia dan timnya menjelajah Samudera Atlantik selama tiga minggu, dan akhirnya menemukan dua buah mesin F-1 di dasar samudera tersebut pada bulan Maret 2013 lalu. Kedua mesin yang diangkat kini telah direstorasi dan dipamerkan kepada khalayak umum.

“Setiap kepingan yang (berhasil) kami angkat ke geladak kapal, memunculkan lagi kenangan tentang ribuan teknisi yang bekerja bersama-sama (pada saat itu) untuk melakukan sesuatu yang pada saat itu dilihat sebagai sesuatu hal yang sangat mustahil untuk dilakukan,” tambah Bezos yang dikutip BBC, Kamis (21/3/2013).

Mesin F-1 yang ditemukan Bezos dan timnya merupakan sebuah mesin pendorong yang menurut agensi luar angkasa Amerika Serikat, NASA, merupakan mesin satu bilik dengan bahan bakar cair yang paling bertenaga yang pernah dikembangkan. Ada lima mesin F-1 yang dipasang dibagian bawah roket Saturn-V untuk digunakan pada program Apollo saat itu.

Dengan menggunakan kendaraan bawah laut Remotely Operated Vehicles (ROV), Bezos menemukan tumpukan mesin F-1 di kedalaman 4.270 meter.

"Sangat sulit menemukan mesin-mesin itu, mereka (mesin-mesin) sudah terkubur di dasar laut sejak 40 tahun lalu. Apalagi kandungan air garam sudah menggerogoti mesin-mesin itu," jelasnya.

Setelah hampir tiga minggu melacak keberadaannya, jejak roket itu pun akhirnya dibawa ke Pelabuhan Cape
Canaveral, di Florida, Amerika Serikat untuk direstorasi dan ditampilkan ke publik nantinya.

"Kami butuh waktu yang lama untuk merestorasinya, karena sulit memulihkan kembali mesin-mesin itu," kata Bezos. Dia menjelaskan, saat ini tim sedang berusaha menghilangkan korosi akibat dari kandungan air garam.

Setelah direstorasi mesin-mesin dari roket Apollo ini akan menjadi milik NASA dan dipamerkan kepada publik di Smithsonian's National Air and Space Museum di Washington DC, Amerika Serikat.

Astronomi


10 Fakta Astronomi

1. Matahari telah berusia sekitar 4,5 miliar tahun dan menghasilkan 383 miliar triliun kilowatt energi.


2. Petir yang terjadi di langit memiliki suhu hampir 3 kali lebih panas dari matahari.


3. Ledakan supernova mampu menghancurkan sebuah bintang secara keseluruhan.


4. Polaris atau bintang utara adalah satu-satunya bintang di langit yang nampak tidak bergerak dari malam ke malam.


5. Pluto tidak memiliki orbit tetap. Terkadang orbitnya melintasi orbit Neptunus.

6. Sebuah benda yang jatuh ke permukaan bintang neutron akan dipercepat hingga sekitar 1012m/s2, membuat benda tersebut hancur dan terurai menjadi atom-atom penyusunnya.


7. Bintang neutron memiliki kepadatan amat tinggi hingga sesendok bintang neutron akan lebih berat dari sebuah gunung! Satu sendok teh bintang neutron memiliki berat sekitar 5×10^12kg.


8. Hanya merkurius dan venus yang tidak memiliki satelit alami "bulan".


9. Setiap tahun bulan bergerak menjauh dari bumi sekitar 3 cm.


10. Bulan merupakan satu-satunya benda langit di mana manusia pernah mendarat diatasnya.

Story


Rumah Baru

Betapa enak menjadi orang kaya. Semua serba ada. Semua keinginan terpenuhi. Seperti Siska. Anak pengusaha kaya. Berangkat dan pulang sekolah diantar mobil mewah.

Walau demikian, Siska bukan anak yang sombong dan dia mau berteman dengan orang lain tanpa melihat status keluarga. Gadis baik yang berperawakan tinggi, putih dan berambut panjang. Tak heran jika di SMA pelangi, Siska adalah primadona. Hampir semua siswa sangat mendambakannya menjadi kekasih hati.

Lalu terjadilah hal tak terduga. Siska menghilang!

Hari ini, tepat hari pertama masuk sekolah setelah liburan semester. Tiga orang sahabat Siska bingung karena mereka tidak mengetahui keberadaan sahabat baiknya. Sebut saja Dany, Andre dan Rina, yang sedari tadi terus menatap gerbang sekolah dari kantin yang tak berada jauh. Mereka berharap teman baiknya akan hadir dan berkumpul setelah sebulan lamanya sibuk dengan liburan masing-masing.

“Rin. Loe ada SMS siska gak?” Tanya Andre
“Gak!” Jawab Rina sedikit cemburu
“Loe Dan?”
“Gak juga, soalnya gue sibuk liburan.” Jawab Dany seadanya

Melihat wajah Andre yang begitu khawatir kepada Siska membuat Rina sedikit cemburu. Rina yang selama ini memendam rasa kepada sahabatnya, Andre. Tapi Andre mengira itu hanya perhatian sebagai seorang sahabat.

Begitu juga dengan Dany. Cowo yang dikenal hampir semua cewe karena ke tampanan serta prestasinya pernah mengutarakan hatinya untuk Rina yang juga sahabat dekatnya, dan sampai saat ini Dany masih mendambakan Rina. –Cinta memang rumit- Walau di saat duka Siskalah yang selalu ada waktu untuknya, hati Dany tetap pada pilihannya.

***

4 Bulan berlalu.

Siska bak hilang di telan bumi, tak ada kabar sedikit pun, rumahnya sudah kosong tak berpenghuni, entah apa yang terjadi. Semua begitu mistery. Dany, Andre dan Rani mulai putus asa untuk mencari info tentang sahabatnya.

Kesempatan ini tidak di sia-siakan Rani, semenjak Siska tidak ada, dia begitu bebas untuk mendekati Andre. Dan benar saja, Andre mulai merasa nyaman dengan Rani, sehingga sahabt itu menjadi sepasang kekasih.

Mengetahui akan hal itu, Dany serasa tertusuk sembilu, wanita yang ia sukai sejak lama, sekarang dengan sahabatnya sendiri, Andre. Sekarang keberadaan Siska baru dirasakannya, betapa pentingnya sahabatnya itu, yang selalu ada, selalu menyemangatinya dikala Rani menolaknya.

Dany membuka layar Handphone-nya, melihat senyuman indah Siska saat ia selalu menemani Dany, senyuman tulus. Dany sedikit tersenyum melihat saat ia bermain kartu dengan Siska, wajahnya penuh bedak. Selanjutnya Dany membuka tasnya, melihat burung kertas berwarna putih, itulah hasil karyanya pertama kali, saat bersama Siska. Siska selalu membuat burung kertas itu, dan semua itu hanya untuknya.

Tak terasa Siska yang dulu hanya sebagai tempat cerita, sekarang setelah semua hilang, Dany baru menyadari betapa berharganya Siska dihidupnya. Dany mungkin bisa kehilangan Rani di hatinya, tapi Siska. Tidak! Siska sangat berharga.

Ternyata benar kata orang. Dia tidak terlihat jikala ada, namun begitu terasa hilangnya saat dia tak lagi bersama kita. Itulah cinta.

Kenangan manis itu membuat semangat Dany untuk mencari Siska meluap.

Hari ini, Dany memutuskan untuk bolos Sekolah. Dia teringat, sewaktu dulu, tepatnya hari minggu Siska minta tolong kepada Dany untuk mengatar ke rumah neneknya. Sekitar satu jam dari rumah Siska.

Teringat hal itu, Dany langsung memacu motor gedenya menuju rumah nenek Siska, berharap bisa mendapat informasi tentang Siska. Dimana keberadaan kekasih hati sesungguhnya.

Satu jam perjalanan, akhirnya Dany sampai kerumah nenek itu. Melihat lingkungan itu, Dany teringat kembali kenangan Siska.

“Permisi.” Dany mengetuk pintu rumah itu.
Kemudian Dany melihat seseorang membuka pintu, benar! Iya neneknya Siska.
“Ehh Nak Dany, apa kabar? Silahkan masuk.” Sapa nenek sangat ramah.
Dany pun masuk ke rumah itu
“Begini nek, saya ingin menemui Siska. Siska dimana sekarang nek?” tanya ku.
Tapi Dany melihat wajah yang tadi ceria, sekarang menjadi lesu, dan tak bersemangat,
“Kenapa nek? Apa yang terjadi?” Tanya Dany makin penasaran.
“Nak Dany, tunggu sebentar ya, nenek ganti baju dulu, nenek akan antar kan nak Dany ke rumah baru Siska”

Dengan menggunakan motor, Dany menggonceng nenek yang meskipun sudah berumur namun tetap terlihat sehat.

Selang beberapa menit, nenek menyuruh memberhentikan motor Dany.

Dany terhenyak dan berfikir ini mimpi. Dia tidak mengharapkan tempat ini, tempat yang paling dihilangkan dari pikirannya tentang Siska, tapi ini semua nyata.
Dany, tertunduk sedih, sangat pilu terasa, melihat orang yang ia sayangi berada terbaring tak berdaya di rumah barunya. Dany langsung memeluk tanah itu, yang dinisan itu tertulis Siska Ardina.

~END~

Story


KINTAN'S SECRET

Dengan langkah lebih cepat dari biasanya, Rey mencoba menjajari langkah kaki Kintan yang setengah berlari menjauhinya. Saat jarak mereka hanya berkisar semeter, tangan Rey langsung terulur dan mencengkram pergelangan tangan Kintan dan mencoba menghentikan langkah gadis itu.

"Kintan!" seru Rey tak sabar seraya menyentakkan tangan gadis berwajah sendu yang berada di hadapannya, "Jadi begitu saja?"

Kintan tampak enggan, "Iya Rey. Please lepaskan tanganku.."

"Tidak!" penggal Rey cepat, "bagiku ini tak masuk akal. Kau! Kau memutuskan aku dengan alasan kau ingin ngelanjutin kuliah ke Amrik! Semudah itu?"

Kintan menelan ludah kelunya, "Maafkan aku, Rey.."

Rey menggeleng tak percaya, "Aku tak percaya semua ini, Kintan! Aku tak percaya alasanmu! Dua tahun kita pacaran dan...dan semua orang iri melihat betapa cinta kita tak pernah goyah. Lalu tiba-tiba kau memutuskan aku begitu saja..."

"Tapi kan aku sudah jelaskan alasannya, Rey." ucap Kintan memelas. Wajahnya tampak memucat.

Rey tergelak, "Oke. Kau akan melanjutkan kuliah ke Amrik. Lantas, apa karena hal itu kita harus putus? Bukankah kita bisa tetap bersama walau jarak memisahkan? Bukankah setelah tamat kau akan kembali? Atau, aku bisa menyusulmu kesana. Banyak, Kintan! Banyak jalan keluar yang kita miliki. Kita tak mesti putus, kan? Jadi alasanmu tak dapat kuterima!"

Lagi-lagi Kintan hanya bisa menelan ludah kelunya dan menunduk untuk menghindari tatapan Rey, "Aku...aku minta maaf..."

"Kintan!" suara Rey sedikit meninggi, "Aku bosan dengan permintaan maafmu! Aku ingin kau memberi alasanmu yang sesungguhnya! Kau...kau jatuh cinta pada cowok lain?"

Kintan mengangkat kepalanya dan langsung menggeleng, "Tidak, Rey! Sungguh."

"Jadi apa? Kau bosan denganku?"

Kintan menggeleng. Setitik air mata jatuh dari sudut matanya, "Jangan desak aku, Rey. Aku sudah mengatakan alasanku terserah kau percaya terima atau tidak. Sekarang, tolong lepaskan tanganku.."

"Kintan..."

"Selamat tinggal, Rey." Kintan menarik tangannya hingga lepas dan berlari menuju sebuah mobil yang sudah menunggunya di seberang jalan.

"Ayo jalan, Nit. Dan jangan menatapku seperti itu!" ucap Kintan seraya menghapus air matanya.

Nita menggeleng-gelengkan kepala seraya memutar kunci kontak mobilnya, "Tega banget sih lo, Kin. Masa lo gak kasihan sama Rey..."

"Justru karena aku mengasihinya makanya aku melakukan semua ini, Nita!" penggal Kintan cepat.

"What the hell! Wujud cinta lo sungguh aneh. Kenapa gak jujur aja sih, Kin..."

"Gue gak ingin Rey kecewa dan sedih."

"Jadi apa menurut lo saat ini Rey belom kecewa dan sedih?" protes Nita cepat.

Kintan menatap sahabatnya. Matanya memerah karena tangis. Tetapi bibirnya tersenyum, "Dia memang kecewa saat ini, Nit. Dan bahkan mungkin sedih. Tetapi setidaknya, dia akan mengenang aku sebagai Kintan yang pergi ke Amrik. Bukan Kintan yang menanti kematian karena kanker otak ini." ucap gadis itu menunjuk-nunjuk kepalanya. "Sudahlah. Tidak usah dibahas lagi. Rey akan bertahan dan akan menemukan penggantiku."

Nita menatap prihatin ke sahabatnya, sekilas. Kintan yang malang. Kau merahasiakan penyakitmu dari kekasihmu, dan memutuskan untuk menjalani detik-detik kematianmu sendirian. Kenapa harus seperti itu, Kintan? Bukankah cinta mestinya harus dipertahankan sampai menutup mata?

-TAMAT-

Astronomi

Apa itu Bintang?


Temen2 semua pernah liat bintang di malam hari?
Atau ngeliat Matahari di siang bolong (Jangan! Bahaya!)?
Pernah gk rasanya indah sekali melihat bintang di malam hari? Melihat bagaimana keagungan sang pencipta?

Well, pada tau gk apa itu bintang? Hayooo, jujur XD

Kalo menurut para astronom, bintang itu merupakan sebuah benda langit berupa bola gas yang bisa mengeluarkan cahaya dan menghasilkan energi sendiri (Bercahaya). Lebih spesifik lagi, bintang itu benda langit yang melakukan reaksi fusi nuklir di intinya untuk mendapatkan energi.

Fusi nuklir? Apa itu?
Fusi nuklir itu merupakan sebuah reaksi ketika suatu partikel saling bertabrakan dan bergabung membentuk unsur baru. Biasanya di inti bintang terjadi proses di mana empat buah atom Hidrogen (H) saling bertabrakan dan bergabung menghasilkan Helium (He). Nah, kondisi yang memungkinkan terjadinya reaksi fusi itu gk sembarangan lho, setidaknya dibutuhkan suhu 15 juta derajat celcius agar sebuah partikel bisa berfusi. Oh ya, fusi nuklir itu menghasilkan energi yang besar lho, makanya manusia saat ini mencoba membuat alat agar partikel bisa berfusi membentuk energi (Mesinnya udah ada satu, cuma belum optimal).

Kenapa harus melakukan fusi?
Karena benda langit yang tidak melakukan reaksi fusi di intinya, tidak bisa disebut sebagai bintang. Melihat ke definisi awal kalo bintang itu suatu benda langit yang membuat sendiri energinya. Dan, di alam semesta, secara alami energi yang berkelanjutan hanya bisa dibuat melalui proses fusi (Apabila ada kesalahan mohon diralat). Sebuah planet/katai coklat/katai hitam yang tidak melakukan fusi nuklir di intinya, tidak bisa disebut sebagai bintang.

Katanya fusi nuklir itu empat Hidrogen nyatu jadi satu Helium, kalo Hidrogennya abis gimana?
Kalo Hidrogennya abis, maka bintang mulai memfusikan Helium (He) untuk membentuk Karbon (C). Uniknya adalah, tubuh kita mayoritas tersusun dari unsur Karbon (Sama dengan makhluk hidup lain dan salah satu unsur abiotik, Tanah), jadi secara tidak langsung tubuh kita dibuat di inti bintang.
Nah, biasanya ada generalisasi alias pengelompokan. Kalo bintang yang massanya di bawah Matahari, ketika Hidrogennya abis dia bakal redup dan mati (Katai hitam). Kalo bintang yang massanya sama dengan Matahari, dia akan berfusi sampai tingkat Karbon lalu mati. Kalo bintang dengan massa di atas 3 kali massa Matahari, dia akan berfusi membentuk elemen yang lebih berat lagi (Hidrogen -> Helium -> Karbon -> Oksigen -> Magnesium, Natrium, Mangan -> Besi). Ketika sudah berfusi membentuk Besi, bintang itu akan meledak sebagai Supernova.

Apa itu Supernova?
Supernova itu kematian bintang yang massanya diatas 3 kali lipat Matahari. Ketika dia mulai berfusi membentuk Besi, maka seluruh materi bintangnya akan runtuh ke intinya, memadat, dan terlontar keluar dengan kecepatan tinggi. Materi yang terlontar tersebut akan terlihat sebagai Supernova, dan inti yang memadat itu akan menjadi bintang neutron/blackhole.

Kenapa kok hasil dari Supernova ada dua?
Tergantung dari massa bintang tersebut. Nah, definisi massa sendiri kan jumlah partikel dalam suatu benda dan satuannya dalam Kg (Definisinya beda dengan jumlah partikel dengan satuan mol). Apabila materi yang ada itu banyak, maka pemadatan itu akan mencapai titik singularitas di mana benda itu memiliki kerapatan tak terhingga (Massanya amat sangat besar, volumenya amat sangat kecil) dan membentuk Blackhole. Tapi apabila materi itu lebih sedikit, pemadatan itu gk bakal sampe ke titik singularitas, dan terbentuklah bintang neutron.

Hmm, bintang seperti Matahari bisa jadi Supernova gk?
Secara umum, tidak bisa, karena massanya kecil sehingga tidak bisa berfusi membentuk Besi (Fe), tingkatnya hanya sampai pembentukan Karbon (C), pada saat pembentukan Karbon, Matahari akan mengembang menjadi sangat besar bahkan Bumi saja bakal dilahapnya. Nanti ketika mati, Matahari hanya akan melepaskan selubungnya saja, intinya akan menjadi katai putih. Tapi, ketika sebuah bintang bermassa besar secara tidak sengaja melintas di dekat katai putih, bisa saja materi bintang tersebut tersedot katai putih dan terjadi Supernova.

Apa itu Katai Putih?
Evolusi bintang bermassa rendah seperti Matahari kita. Ukurannya hampir sama dengan Bumi namun kepadatannya melebihi Bumi. Kepadatan itu bisa dibilang sebagai jumlah partikel yang ada dalam satuan volume (Sama seperti massa jenis, kg/m^3).

Katai Putih bisa disebut bintang gk?
Bisa, karena dia pernah melakukan fusi nuklir di intinya (Di kehidupan sebelumnya), karena cahayanya berasal dari simpanan energi, bintang itu akan meredup, dan akan menjadi Katai Hitam ketika cahayanya hilang.

Emang bener ya kalo Matahari itu bintang?
Yup, karena Matahari itu memiliki reaksi fusi nuklir di intinya.

Trus, kenapa keliatannya besar? Gk sama kayak bintang di malem hari?
Karena, Matahari itu bintang terdekat dengan Bumi, jaraknya aja "cuma" 149.600.000 km, bandingkan dengan Proxima Centauri yang jaraknya 38.789.280.000.000 km, padahal bintang Proxima Centauri itu bintang terdekat kedua dari Bumi setelah Matahari.

Dan, bintang lain itu emang lebih besar ya daripada Matahari? Kok ukurannya kecil banget kalo diliat?
Walau gk semuanya, tapi rata-rata bintang itu lebih besar daripada Matahari. Kenapa keliatan kecil? Sekali lagi karena jaraknya jauh. Contohnya, bintang Sirius yang ukurannya 2x ukuran Matahari, tapi karena jaraknya 75.686.400.000.000 km (8 tahun cahaya), maka hanya terlihat seperti pasir yang berkelip2.

Oh ya, bintang itu bisa saling mengorbit gk sih?
Bisa, kalo gaya gravitasi yang ada bisa membuat dua buah bintang saling tarik menarik. Contohnya saja Alpha Centauri yang merupakan sistem tiga bintang (Alpha Centauri A, B, dan Proxima Centauri). Mereka bertiga saling mengorbit satu sama lain dan periodenya sekitar 80 tahun.

Ada lagi? ._.

Astronomi


Sebagian dari Isi Galaksi kita Bima Sakti


Melihat lebih dalam ke arah Bimasakti, tampak nebula dan gugus bintang bergerombol di sana-sini. Objek-objek ini masih dapat diamati bahkan dengan teropong sederhana. Tinggal arahkan teropong ke arah sekitar sagitarius dan skorpius, anda akan menemukan banyak sekali objek 'deep-sky' yang menarik.

Medan pandang gambar sekitar 25 derajat, diambil dengan kamera DSLR Canon 500D dengan lensa Tamron 17-50 pada 50mm f/3.2. Gambar merupakan tumpukan dari 15 citra dengan bukaan 1 menit pada ISO 800.

Story


MIMPI BESARKU

Aku baru saja selesai menyusun bunga-bunga anyelir terakhir di rak, ketika samar-samar kudengar suara mendesis dari belakangku. Tepatnya, dari balik rumpun bambu, di sudut ruangan. Aku menoleh. Ternyata tidak ada siapapun atau apapun di sana, membuatku manyun. Namun begitu aku memalingkan wajah, kembali aku mendengar suara mendesis itu lagi.

"Psstt! Psstt!"

Aku menoleh dengan perasaan meradang. "Siapa disitu?" tanyaku dengan suara lantang. Mataku langsung menyelidik ke arah rumpun bambu, yang harganya lumayan mahal tersebut. Lalu, pelan-pelan aku melangkah mendekati rumpun bambu tersebut dan...

"Hei!" sebuah sapaan yang tiba-tiba seiring munculnya sesosok pria bertubuh tinggi dan bertopi hitam, membuatku hampir terjengkang kaget.

"Si..siapa kau?" tanyaku terkejut.

Sosok di hadapanku membuka topinya sebentar, memperlihatkan wajahnya, dan kembali memakainya dengan terburu-buru.

"Ariel?" sontak mataku nyalang menatapnya. Aku hampir tidak percaya dengan penglihatanku sendiri.

"Sstt! Jangan keras-keras!" bisik sosok tersebut, yang tak lain dan dan tak bukan adalah Ariel Peterpan. Tokoh idolaku, semenjak aku mengantarkan buket bunga pertama kepadanya.

Aku segera menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu kembali menatap pria tampan yang berdiri menjulang di hadapanku. "Tunggu! Aku akan mengunci toko!" kataku cepat.

Dengan langkah terburu-buru dan dada berdebar aneh, aku segera mengunci toko bunga tempatku bekerja. Kebetulan sekali aku memang sedang bersiap-siap untuk pulang. Dan kedatangan Ariel Peterpan, yang grup band-nya sekarang telah bertukar menjadi Noah, benar-benar membuatku terkejut. Sedikitpun aku tidak pernah menduga pria setampan dan setenar Ariel bisa nyasar ke toko ini.

"Keluarlah. Sudah aman. Tidak akan ada yang melihatmu karena gorden toko sudah kututup." ucapku kemudian.

Tak lama, Ariel, yang malam itu mengenakan stelan celana Jeans dan jaket kulit berwarna hitam, tampak sangat tampan, keluar dari perembunyiannya. Setelah merasa benar-benar aman, diapun membuka topinya dan tersenyum menyeringai ke arahku. Tuhan! Dia tampan sekali! Penjara ternyata tidak mengambil kekerenannya.

"Aku haus!" katanya seraya duduk di kursi yang biasa kududuki jika sedang tidak ada pelanggan datang ke toko.

"Sebentar..." kataku seraya melangkah ke lemari pendingin. Sekaleng minuman ringan segera kukeluarkan dan menyodorkan ke penyanyi terkenal tersebut. "Kamu kenapa bisa berada disini, Riel? Terpisah dari grup band-mu, atau apa?" tanyaku penasaran.

Ariel tidak langsung menjawab. Dia memilih lebih dahulu meminum coke-nya dengan satu nafas, dan setelah habis, diapun menghapus sisa-sisa minuman yang tumpah disekitar mulutnya, dengan punggung tangan. Lalu kembali menyeringai, memamerkan serangkaian giginya yang tampak putih dan tersusun rapi.

"Bukan terpisah, tapi memisahkan diri!" katanya membetulkan kalimatku.

Aku terkekeh, "Trus kenapa bisa nyasar kesini? Kau masih mengenalku?" tanyaku menjebak.

"Aduh, Linda! Aku tidak mungkin melupakanmu. Kau pengantar bunga paling manis yang pernah kukenal!" ucap Ariel seraya memperlihatkan wajah inocent-nya yang imut dan menggemaskan. Semua gadis pasti akan jatuh nyungsep saat melihat wajah itu. Termasuk aku. Makanya aku langsung memegang meja.

"Tapi tidak semanis Luna, kan?" tanyaku memancing konflik.

"Huuff! Jangan mengungkit-ungkit masa lalu, Lin. Gak asyik, ah!"

Aku tertawa. "Jadi sungguhan ya kau masih mengingatku?"

Ariel ikut tertawa, "Gimana aku bisa melupakanmU? Saat itu, kau mengira aku Copet dan memukulku dengan bunga-bungamu, ingat?"

Aku tersenyum malu. Tentu saja aku ingat sekali peristiwa mengenaskan dan sangat memalukan yang terjadi sekitar enam bulan yang lalu itu. Saat aku mendapat pesanan buket bunga yang harus kuberikan ke salah satu personil grup Noah. Namun di saat aku mencari-cari, tiba-tiba aku merasakan seseorang menarik tasku dan tanpa ba-bi-bu, aku langsung memukul orang tersebut dengan bunga-bunga yang kubawa. Dan setelah semua bunga hancur berantakan, akupun melihat ternyata Ariel lah yang telah iseng mencopet tasku. Saat itu, bukan main malunya aku karena ternyata seluruh personil band Noah juga melihat kelakuan konyolku.

"Kau belum melupakannya ya?" tanyaku dengan muka memerah.

"Aku tidak mau melupakannya. Itu adalah kenangan yang paling manis yang pernah aku rasakan." gumam Ariel tersenyum, membuat hatiku seperti taman yang penuh dengan bunga-bunga indah.

"Trus, apa ada yang tahu kau datang kemari. Riel?"

"Kurasa tidak." jawab Ariel mengangkat bahu."Jujur, aku lelah, Lin. aku sebenarnya ingin istirahat."

"Bukannya kau tampak bersemangat kembali menyanyi?" tanyaku heran.

"Iya. Di panggung. Tapi apa ada yang tahu bangaimana dengan hatiku? Aku capek. Sebenarnya aku ingin berhenti menyanyi."

"Aduh! Kalau kau berhenti menyanyi, lalu siapa yang akan kuidolain?" tanyaku tak terima.

"Memangnya kau mengidolainku, Lin?"

"Ya iyalah."

"Sejak kapan?"

Aku tersenyum malu, "hm...sejak aku menimpukmu dengan bunga-bungaku."

Ariel tertawa. "Idola kan gak mesti harus seorang penyanyi, Lin. Kalau aku lebih memilih menjadi penjual bunga, sama sepertimu, tentu kau masih tetap mengidolakanku, kan?"

Aku mengangguk. "Salama ini, aku bahkan telah memiliki rencana jika suatu hari kelak aku bertemu denganmu, Riel." kataku tersenyum manis.

"Ohya? Apa?" tanya Ariel cepat.

"Kau penasaran ya?"

"Iya. Apa? Jangan buat aku penasaran dong."

Aku tertawa, "Berdiri dan mendekatlah kemari, Riel. aku akan memberitahumu." kataku cepat.

Tanpa membuang waktu, Ariel langsung bangkit dari tempat duduknya dan melangkah mendekatiku. Sikapnya sungguh manis, semanis senyumnya. Lalu aku dapat merasakan wajah tampan itu mendekati wajahku, dan entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja aku merasakan sebuah ciuman yang hangat dan ...

Jleb!

"Linda..." Ariel melepaskan ciumannya. Matanya menatapku dengan ribuan tanda tanya. Lalu pandangannya beralih ke bawah, ke lambungnya yang berdarah karena sebuah pisau telah menancap di sana. "A...apa..."

Aku mendesah dan mengangkat bahu. "Entahlah, Riel. Kau selalu tampak manis dan menawan di mataku. Sudah lama aku memimpikanmu...." aku diam sejenak, "...dalam keadaan seperti ini. Wajah pucat menahan sakit... tanpa senyum... tanpa seringai menggoda...dan yang terbayang olehmu hanyalah kematian."

Ariel memegang pisau yang berdarah di perutnya. Matanya tampak marah dan kecewa. Wajahnya tampak menahan rasa sakit yang amat sangat. Lalu dengan perlahan, diapun terjatuh ke lantai, dengan mata terpentang lebar.

"I love you, Riel. Always!" ucapku tersenyum tipis. Siapa sangka, akhirnya mimpi besarku tercapai juga.

TAMAT

Story


THE PARFUME

Namanya Ferry. Anak Teknik Sipil semester enam. Tinggi, putih, rambutnya ikal sedikit melewati bahu, dan sangat keren. Nilai plusnya bertambah saat aku tahu kalau dio adalah anak tunggal dari keluarga bonafide.Waduh! Siapapun yang menjadi pacarnya, pasti ga nyesel deh. Termasukkah aku?

Entahlah. Waktu Ade menyebutkan satu persatu cowok yang kost di rumahnya, salah satunya yang boleh dipacarin karena masih berstatus jomblo, yah...si Ferry ini. Makanya, diem-diem aku mulai memperhatikan tuh anak, walau dari jauh. Sayangnya...yah, sayangnya, dia kuliah di teknik,sementara aku di perbankan. Kampusnya asli berlawanan arah dan saling bertolak belakang. Jadi satu-satunya jalan untuk mengamatinya adalah saat aku dan dia sedang berada di rumah.

Ohya, aku juga adalah anak kost di rumah Ade, sahabatku.Ade ini adalah cucu si pemilik kos-kosan. Jadi bisa kamu bayangkan deh anak kos cewek sendirian plus dikeliling beberapa anak kos cowok...huhuuuyy...

"Hai!" tiba-tiba aku mendengar sebuah suara menyapaku saat aku baru saja pulang kuliah. Aku menoleh. Ternyata dia! Si Ferry! Hadduh! Pucuk dicinta, ulampun tiba, pikirku. Orang yang sudah dua hari ini ingin kukenal, ternyata muncul dengan sendirinya di tepat di depan mataku.

"Hai..." jawabku sedikit malu.

"Kamu Linda, kan?" tanya cowoK yang berdiri menjulang di hadapanku. Hadeh! Niyh anak tingginya seberapa, ya? Aku saja yang sudah 165 cm, masih se dagunya! Tapi keren, kok. Apa lagi aku suka sama cowok yang tinggi melebihiku.

"Iya." jawabku singkat.

"Hm, boleh kenalan dong? Aku Ferry." cowok itu melangkah mendekatiku dan mengulurkan tangannya. Aku menyeringai senang. Saat itu, aku sempat melihat senyum sekilas Ferry yang sangat keren. Wajahnya, bila dilihat dari dekat juga sangat tampan. Dengan rambut yang sedikit kemerahan, tak pelak lagi banyak yang akan berpikir kalau cowok itu mungkin sedikit keturunan bule. Apalagi ditambah dengan hidungnya yang mancung. Pokoknya keren, deh! Hmm...aku selalu suka sama cowok-cowok keren...hehehe.

Namun saat perkenalan itulah aku merasakan ada yang aneh pada cowok itu. Dan ketika Ferry mengulurkan tangannya, keanehan itu semakin jelas terasa.

Hari terus berlalu, dan Ferry semakin sering mendekatiku. Dari pura-pura nanya jam, lalu minjem gunting kuku, sampai menjemputku kuliah dengan motornya yang keluaran terbaru. Aku sih mau menjawabnya saat dia bertanya jam, atau aku masih mau meminjamkannya apapun barang-barangku, termasuk gunting kuku. Namun untuk dibonceng naik motornya, aku masih ragu. Sebab, aku masih melihat adanya keanehan tersebut. Bahkan ketika Ferry mulai mencoba mendatangiku saat malam minggu dan mengajakku keluar, aku dengan pelan dan amat terpaksa menolaknya. Hadeh!

"Lin, kenapa sih loe selalu menolak ajakan Ferry? Kurang apa tuh anak di mata loe? Ganteng, tajir, anak tunggal, dan kayanya demen lagi ama loe!" gerutu Ade suatu hari, sesaat setelah aku menolak ajakan Ferry untuk jalan ke Mall.

"Hm, biar deh, De! Gue...masih mau kuliah dulu!" jawabku sok cool. Ade manyun mendengarnya.

"Hallaahh...gaya loe! Belajar aja ga pernah!"

Aku terkekeh.

"Lin, kenapa sih? Lo ga suka ya sama dia?" tanya Ade setelah vacuum lima menit.

"Ntahlah, ga demen aja."

"Ya, tapi pasti ada alsannya dong napa loe ga demen ma cowok sekeren Ferry."

Aku menatap Ade lekat, "Yah,oke deh. Gue mu jujur aje ame loe, De. Sebenernya...ada yang aneh sama dia. Dan itu bener-bener mengganggu. Makanya gue terpaksa selalu menolaknya."

"Aneh? Aneh apaan?"

"Aneh, deh!"

"Iya,anehnya gimana? Apa dia berekor? Hm...kalopun dia berekor, kok loe bisa tau? Loe ngintip dia mandi ya?"

"Hadeehhh!!" aku menjitak kepala sobatku itu sampe bonyok.

"Jadi apaan dong? Ciyuus, gue penasaran!"

Aku menelan ludah, bingung apa harus mengatakannya atau tidak. Namun jikapun aku memutuskan untuk tidak menjawab, Ade pasti akan semakin mendesakku dan menggangguku. Aku tahu banged sifatnya yang tidak pernah puas tersebut.

"Lin? Woi!"

"Okey deh! tapi loe jangan bilang-bilang pada siapapun ya? Takut kenapa-napa, soalnya." pesanku sungguh-sungguh.

"Iya deh. Janji gue!"

"Sebenernya Ferry itu..." aku mendekatkan mulutku ketelinga Ade dan membisikkan sesuatu kepadanya.

"Hah? Astaga!" seru Ade dengan mata melebar. "Kenapa gue ga menyadarinya sejak dulu ya? Hm...yah,mungkin karena gue ga pernah dekat dengannya ya?"

"Ya gitu deh!"

"Lin, gini aja. Gue ada jalan keluarnya."

"Ohya? apa?"

"Gini, kalo ntar dia ngajak lo keluar lagi, lo..." Ade membalasku dengan membisikkan jawabannya ke telingaku. Aku menyeingai.

"Paham?"

"Engga."

"Jadi napa lo nyengir?"

"Geli, tau!" jawabku ngakak.

"Hadeh! Ciyus, lo?"

"Iya! Bisikin lagi dong!"

Akhirnya Ade kembali membisikkan kata-katanya yang kusambut dengan angguk-angguk kepala.

Dan seperti yang telah di duga, sabtu sore, pulang kuliah, Ferry sudah pasang senyum mempesonanya sambil menyandar di dinding. Gayanya sungguh cool dan sebenernya aku sangat menyukainya. Kalau saja....

"Hai, Lin!" sapa Ferry tersenyum.

"Hai, Fer."

"Baru pulang kuliah?"

"Iya."

"Hm...ntar malem, ada acara, ga?"

"Engga."

"Great! Nonton,yuk? Breakin Down 2 loh."

"Wow! Keren!" sorakku cepat.

"Jadi...gimana? Mau?"

"Boleh."

Ferry terkejut. Setelah hampir dua bulan aku menolak ajakannya, tentu saja tuh cowok langsung kaget mendengar jawabanku yang ringan tanpa ragu. Untung ga meninggal di tempat...:P

"Bener, Lin, kamu mau nonton bareng aku??"

"Iya, bener kok."

"Asyek! Oke, aku tunggu jam 7 disini ya?"

"Iya. Aku masuk dulu ya."

"Lin! Sampai jumpa jam 7, ya?" terdengar Ferry berteriak sambil lari ke kamarnya. Aku mengangguk dan tersenyum. Lalu setelah semua ritual menjelang malem minggu kulakukan - mandi, cukur bulu, dan pake baju cantik -, akhirnya aku keluar, dan kulihat Ferry sudah menungguku dengan sangat...sangat tampan...

"Hai, Lin! cantik banged, deh!" sapa Ferry begitu aku melangkah ke depannya.

"Makasih." jawabku menyeringai.

"Siap?" tanyanya kemudian.

Aku mengangguk. "Tapi tunggu dulu, Fer. Ada sesuatu yang mesti aku lakukan."

"Apa?"

"Ini!" Aku, yang sedari tadi menyembunyikan sebotol parfume di belakang punggungku, dengan cepat menyemprotkannya ke Ferry. Lalu tiba-tiba kulihat Ferry terkejut dan melompat mundur.

"Lin! Apa yang kau lakukan?" tanyanya panik.

"Hm...aku cuma menyemprotkan parfume ke kamu, kok. Memangnya kenapa?"

Ferry langsung membuka kemejanya, "Aku gak suka pake parfume, Lin! Aku bener-bener ga suka wewangian apapun!" teriak Ferry. Lalu cowok itu segera berlari ke kamarnya sambil mengedumal. Akupun kembali dengan ke kamar dan mendapatkan Ade yang menungguku penasaran.

"Gimana, Lin?"

"Hadeh! Ternyata dia ga suka pake parfume! Pantes aja bau! Gue paling ga demen cowo bau asem kaya dia, De. Biarin dia kaya atau tajir, kalo bau...teparrr..."

Ade tertawa ngakak. Jadi sebenernya, itulah keanehan Ferry. Dia cowo keren yang bau! Dan pantes saja masih jomblo! Cewek mana coba yang mau sama cowok asem?..hahahah..

"Yaudah, Lin. Dear, aja. Dia juga keren abis. Rambutnya gondrong. Jago maen gitar, lagi." tawar Ade langsung.

"Maksud loe Dedy Armin?"

"Iya!"

"Oggaah!"

"Napa?"

"Giginya berantakan!" jawabku sambil nendang-nendang ember. Ade kembali tertawa ngakak ampe guling-guling di lantai. Dan pada akhirnya, beginilah aku, masih tetap menjomblo. Keren sih, anggota senat di kampus, dan pinter. Tetapi ... tetep aja jomblo. Dan itu memang menNGENESkan, sodara-sodara...

-=TAMAT =- 

Story


MAAF, AKU HARUS PERGI

Rena: Terkadang aku hanya tak bisa mengerti, mengapa ada pria yang mengatakan cinta kemudian tiba-tiba ia meninggalkan kita tanpa sebab yang jelas. Hanya ada kata perpisahan yang menyakitkan dan menghancurkan hati. Apakah memang hati wanita diciptakan untuk itu?

***

Bagas: Aku tahu, apa yang aku lakukan ini tentunya akan menyakiti hati Rena, tetapi aku sungguh-sungguh mencintainya. Dan aku tidak ingin membuat ia sedih dengan mengatakan yang sejujurnya. Karena hatinya akan jauh lebih terluka, ia akan kecewa, dan terlebih lagi, sebenarnya aku yang takut ditinggalkannya...

***

Rena: Bagas, adalah pria yang kukenal 4 tahun silam dari sepupuku. Kami bertiga kuliah di tempat yang sama, tinggal di tempat yang sama, kelaparan bersama-sama, dan berlari ke warung Padang terdekat setelah mendapat kiriman dari orang tua.

Kami sama-sama merantau di kota orang, mengejar mimpi dan dibekali doa agar dapat meraih prestasi. Demikian mimpi yang sama membuat kami tak lantas hanya bisa menghabiskan uang hasil kiriman orang tua. Kami bertiga saling memberi motivasi dan semangat agar kuliah kami diselesaikan dengan baik seperti keinginan keluarga.

Melewati ratusan peluh dan air mata, kami berjanji untuk menjadi sahabat yang saling menjaga hingga pendidikan yang harus kami tempuh ini usai. Demikianlah, tanpa kuduga sebelumnya, aku jatuh cinta pada Bagas. Sosok yang sebenarnya kuanggap sebagai sahabat, yang sama-sama tak ingin mengecewakan orang tua masing-masing. Aku tahu. Ia juga menyimpan perasaan yang sama, semua itu terlihat jelas dari binar matanya.

Dan benar. Tebakanku tidak salah, perasaan itu memang seperti radar yang tak berbohong ketika berbicara soal cinta. Bagas mencintaiku. Diam-diam di belakang sepupuku, kami menjalin hubungan, saling mencintai satu sama lain, saling menjaga satu sama lain. Aku bahagia karena cintanya.

***

Bagas: Rena, gadis cantik yang selalu kuat dengan senyum menawannya. Tak seperti gadis lain yang cengeng dan manja, ia tahu sekali kapan saat harus bersikap sebagai wanita, dan kapan harus mandiri. Aku jatuh cinta padanya, sejak pertama kali aku melihatnya.

Kami berjanji untuk menjadi sahabat yang saling mendukung mimpi, sehingga untuk waktu yang lama, aku harus berakting menjadi sahabatnya demi menjaga ia tetap dekat denganku. Sekian hari kuamati, aku menangkap gelagat yang sama. Kuberanikan diriku menyatakan cintaku padanya, dan ia membalas cintaku. Aku bahagia karena cintanya.

***

Rena: sudah 3 tahun berjalan kuliah kami, setengah bulan lagi aku harus bisa menyelesaikan kuliah ini. Aku tak ingin ayah dan ibu menunggu terlalu lama. Aku ingin membuat mereka bangga. Tetapi, aku tak ingin meninggalkan Bagas.

Awalnya, aku mengira Bagas sedih dan masih tak rela ditinggalkan. Gelagatnya tampak aneh dan menjadi pendiam. Kami jadi jarang bertemu berdua seperti dulu lagi. Ia hanya muncul saat sepupuku ada, dan sisanya ia habiskan di kamar sendiri atau di luar, dengan alasan-alasan yang tak pernah kuketahui. Apakah dia sudah punya yang lain?

Aku berusaha mengusir pikiran buruk itu, dan menganggap bahwa aku terlalu sensitif sebagai seorang wanita. Tetapi lambat laun, sikapnya benar-benar mengganggu, sampai...

"Kamu apa-apaan sih? Aku ngerasa kamu menghindar deh, apa aku berbuat salah sama kamu?" aku mendorong tubuh Bagas ke dalam rumah kontrakan, saat kutanggap dia hendak pergi menghindariku lagi. Kali ini aku tak kehabisan akal. Aku berpura-pura harus kuliah pagi, namun kutunggu dia keluar dari persembunyiannya.

"Apa sih Ren? bukannya seharusnya kamu kuliah pagi ini? aku juga buru-buru nih!" tegas Bagas padaku tanpa melihat wajahku. Ia menatap ke jalan, seolah memang tak ingin diganggu. "Nggak. Tunggu dulu. Jelasin dulu ke aku, kenapa kamu jadi bersikap aneh begini? Baru deh aku akan melepaskan kamu," kataku lagi.

"Aku capek. Aku punya banyak tanggung jawab kepada kedua orang tuaku. Jadi aku minta kamu nggak mengganggu aku. Itu aja, aku harap kamu bisa mengerti tanpa menuntut sesuatu yang tak perlu dijelaskan lagi. Sudah! Aku pergi." Bagaspun sekejap saja menghilang dengan motornya. Meninggalkan tanda tanya yang perlahan luntur dibawa air mata. Segera saja kusadari, mataku sudah tak sanggup menahan kaca-kaca yang makin menebal. Kaca tersebut kemudian jatuh, pecah dan membasahi bajuku.

Semenjak hari itu aku selalu bertanya, apa yang salah dari diriku. Sepupuku jadi heran, mengapa aku dan Bagas lebih sering murung dan menyendiri. Namun, aku berhasil sekali lagi mengelabuinya. Sebulan cukup memberiku waktu untuk menjadi wanita yang cengeng dan tidur di atas air mata. Kuseka air mata itu, dan segera kuselesaikan kewajibanku agar bisa kubanggakan sepulang dari kota nanti. Ayah, ibu, tunggu anakmu...

***

Bagas: Aku tak ingat sejak kapan aku merasa sakit perut. Sakit nyeri yang semakin hari semakin kuat ini mengangguku, hingga suatu hari aku nyaris pingsan dan berhasil ditolong oleh Roy. Iapun menyarankanku bermain ke rumahnya. Ayahnya adalah seorang dokter, mungkin ia bisa membantu memeriksa kondisiku dengan cuma-cuma. Roy tahu benar aku anak perantauan, jadi kali ini ia meminta ayahnya tak menarik sepeserpun dari jasanya.

"Sejak kapan kamu merasa sakit perut begini?" tanya ayah Roy. Aku menggeleng, aku bahkan tak pernah ingat. "Nggak ingat, Om. Biasanya memang cuma mual-mual saja, seperti sakit maag, tapi diminumi obat juga udah baikan kok. Mungkin hari ini kelelahan saja," hiburku.

"Apakah kamu juga seringkali merasa pusing karena anemia?" tanyanya lagi membuatku jadi curiga. "Iya kadang sih, Om. Kenapa ya? apakah serius Om?" aku jadi deg-degan dan cemas.

"Om sarankan kamu pergi ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan sinar X. Nanti Om beri pengantarnya. Om tidak yakin, tetapi dari gejala dan keluhan yang kamu rasakan, Om rasa ini adalah kanker perut. Kita harus tahu, sudah seberapa besar ia berkembang di dalam perut dan mengganggu lambungmu." Bagaikan petir di siang hari, semua berita itu menyambar tanpa memberi ampun. Tanpa menunggu lama akupun mengikuti saran Om, dan memeriksakan diri. Masih dibantu oleh Roy dan ayahnya, aku mendapatkan diriku ternyata sudah berada di stadium 4. Om bilang tak berani memprediksikan usia, karena usia itu di tangan Tuhan. Yang dapat dilakukannya adalah membantu pengobatakanku dan meringankan rasa sakitku.

Hari itu, aku merasa hidupku hancur. Aku takut kehilangan segala sesuatu yang tengah manis kunikmati saat ini. Aku takut kehilanganmu Ren...

***

Rena: Hari ini adalah hari wisudaku. Rasanya sebagian beban terlepas dari bahuku. Namun, ada satu hal yang membuatku gelisah sedari tadi. Aku tak menemukan batang hidung Bagas di manapun, apakah ia benar-benar sudah melupakanku? Apakah dia tak sedikitpun ingin merayakan hari bahagiaku?

Aku meminta ayah dan ibuku untuk pulang lebih dulu. Berbekal alasan masih ingin mengurus surat ini itu, aku akan tinggal 2 minggu lagi di sini. Dalam hati aku sadar, 2 minggu itu akan kumanfaatkan baik-baik untuk mencari tahu mengapa Bagas berubah.

***

Bagas: Aku tahu ini adalah hari terakhir Rena di sini. Dengan terpaksa aku harus menemaninya sampai ke stasiun. Aku tetap menunjukkan sikap dingin kepadanya, walau hati ini rasanya tak rela. Ingin sekali aku memeluknya, menghujaninya dengan ciuman selamat karena ia berhasil menyelesaikan studinya terlebih dahulu. Tapi setiap kali melihatnya, kuurungkan niat itu. Aku tak ingin melihatnya terluka. Aku sangat mencintainya.

"Aku ingin mampir ke taman itu dulu Gas," kata Rena dengan lirih. Awalnya aku enggan, namun melihat wajahnya yang memelas, akupun mengantarnya ke taman tempat kami sering duduk berdua dulu.

Ia berlari ke sebuah pohon, dicarinya inisial yang kami pahat di sana dulu. B & R, semuanya tak ada. Rena terisak dan memekik lirih, "hilang... semuanya hilang... di mana ya? kayaknya di sini, tapi kok nggak ada. Gas, hilang Gas..." aku yang tak tega sengaja menjaga jarak. Aku tak ingin terlibat emosinya saat itu. Kubiarkan ia menangis sendiri hingga ia puas. Ia diam, menghapus air matanya, dan berjalan ke arahku.

"Aku tak mengerti sampai sekarang, mengapa sikap dinginmu itu tetap saja kau tunjukkan. Apa sih yang sebenarnya kau inginkan? Aku tak tahu. Baiklah, mungkin memang sudah ada yang mengisi hatimu. Antar aku ke stasiun Gas," kata Rena dengan mata sayu tanpa energi. Keceriaan dan semangatnya seperti luntur disapu kesedihan mendalam di hatinya.

Akupun mengantarnya ke stasiun, melepas kepergiannya yang sebenarnya tak kurelakan. Untunglah hari itu hujan, setiap tetes air hujan itu menyelamatkanku. Air mata yang keluar dan mengalir di pipiku tak ada yang tahu. Aku hanya berjalan gontai dan membiarkan orang yang kusayangi pergi tanpa tahu apa yang sebenarnya. Aku hanya berharap ia tak terluka dan tak bersedih akan kepergianku...

Maafkan aku Ren, aku mencintaimu...

***

Rena: Yah, demikianlah cinta. Mungkin aku saja yang terlalu berharap dan memimpikan yang tidak-tidak. Terpaksa harus kutelan pedih ini sendiri, tanpa tahu kesalahanku yang sebenarnya. Oh, aku tahu. Kesalahanku adalah mencintaimu yang tak mencintaiku juga.

Baiknya, aku kubur semua perasaan itu. Aku akan kembali ke kotaku. Selamat tinggal, Bagas...

-=end=-